Sidebar atas

Minggu, September 06, 2009

NASKAH AKADEMIK KAJIAN KEBIJAKAN KURIKULUM SMP

NASKAH AKADEMIK KAJIAN KEBIJAKAN KURIKULUM SMP
Pengantar
Abstrak
Daftar Isi
  1. Bab I Pendahuluan
    1. Latar Belakang
    2. Tujuan
    3. Ruang Lingkup
  2. Bab II Landasan
    1. Landasan Yuridis
    2. Landasan Teoritis
  3. Bab III Temuan Kajian dan Pembahasan
    1. Kajian Dokumen
    2. Kajian Lapangan
    3. Pembahasan Temuan Kajian Dokumen dan Lapangan
  4. Bab IV Kesimpulan dan Rekomendasi
    1. Kesimpulan
    2. Rekomendasi Jangka Pendek
    3. Rekomendasi Jangka Panjang
  1. BAB I PENDAHULUAN
    1. Latar Belakang
      1. Standar isi merupakan bagian integral yang tidak terpisahkan dari delapan standar yang termasuk dalam lingkup standar nasional pendidikan. Standar isi tersebut memuat lingkup materi dan tingkat kompetensi tamatan, kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi oleh peserta didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Suatu standar yang berfungsi sebagai acuan dan main goals di dalam membuat perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pendidikan, maka rumusan-rumusan standar isi hendaknya bersifat konseptual, fundamental, esensial, bermakna, akurat, konsisten dan praktis guna mencapai Tujuan Pendidikan Nasional.
      2. Sifat konseptual standar isi menghendaki adanya landasan dasar filosofis, psikologis, akademis, sosiologis, dan manajemen, sehingga rumusan-rumusan yang tertuang dalam dokumen acuan mengakar pada dasar keilmuan, memberikan batang tubuh yang kokoh dengan tidak terlalu terombang ambing oleh dinamika perubahan, tetapi membuka peluang secara fleksibel terhadap perkembangan baru.
        Sifat fundamental standar isi menghendaki pemuatan hal-hal mendasar tentang kemampuan yang hendaknya dimiliki sumber daya manusia baik untuk kepentingan menghadapi problematika masa kini maupun adaptable untuk kepentingan masa mendatang (berifat futuristik).
      3. Sifat esensial standar isi menghendaki pemuatan prinsip-prinsip pokok dari setiap bidang keilmuan dengan terminologi dan ruang lingkup yang telah disepakati pakar nasional, regional maupun internasional yang memberi dukungan berarti terhadap potensi sumber daya manusia yang akan diujudkan dan membuka peluang terhadap dinamika perubahan (kemutakhiran isi).
        Sifat kebermaknaan standar isi untuk pendidikan menghendaki adanya perubahan kepada paradigma science/education for life bukan life for science/education atau science/education for science/education. Hal ini menegaskan bahwa pendidikan yang dimuati isi keilmuan hakikatnya ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan kehidupan. Kebermaknaan standar isi menyangkut dimensi-dimensi pengalaman, aturan logis, elaborasi seleksi yang disesuaikan dengan tradisi budayanya maupun dunia disiplin persekolahannya, tuntutan dunia kerja dan dimensi ekspresi yang komunikatif berdasarkan pertimbangan pedagogi.
      4. Sifat akurasi standar isi menghendaki bahwa terminologi yang digunakan di dalam setiap dokumen penyelenggaraan pendidikan harus sesuai dengan yang diakui oleh kesepakatan keilmuan. Dalam hal ini, jika dianut pandangan kurikulum spiral, maka tingkat kedalaman standar isi hendaknya jelas pada setiap jenjang sekolah.

      Gambaran Selengkapnya Silahkan DOWNLOAD DISINI File Bentuk PDF
      Gambaran Selengkapnya Silahkan DOWNLOAD DISINI File Bentuk DOC

    بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ
    Shahih Bukhari
    -Imam Bukhari-
    Kitab Keutamaan Lailatul Qadar
    Bab 3: Mencari Lailatul Qadar pada Malam yang Ganjil dalam Sepuluh Malam Terakhir
    Dalam hal ini terdapat riwayat Ubadah.[2]
    987. Aisyah رضي الله عنها berkata, "Rasulullah ber'itikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, dan beliau bersabda, 'Carilah malam qadar pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan."
    988. Ibnu Abbas رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Carilah Lailatul Qadar pada malam sepuluh yang terakhir dari (bulan) Ramadhan. Lailatul Qadar itu pada sembilan hari yang masih tersisa,[3] tujuh yang masih tersisa, dan lima yang masih tersisa." (Yakni Lailatul Qadar 2/255).
    989. Ibnu Abbas berkata, "Carilah pada tanggal dua puluh empat."[4]
    [2] Yaitu, hadits Ubadah yang maushul yang disebutkan sesudah bab ini.
    [3] Sebagai badal dari perkataan 'al-Asyr al-awaakhir' 'sepuluh hari terakhir'. Sembilan hari yang masih tersisa, maksudnya tanggal dua puluh satu, tujuh hari yang masih tersisa maksudnya tanggal dua puluh tiga, dan lima hari yang masih tersisa maksudnya tanggal dua puluh lima.
    [4] Riwayat ini mauquf (yakni perkataan Ibnu Abbas sendiri), tetapi dirafakan oleh Ahmad. Hadits ini telah ditakhrij di dalam Silsilatul Ahaditsish Shahihah (nomor 1471). 
    Al-Hafizh berkata, "Terdapat kesulitan mengenai perkataan ini yang di dalam riwayat lain dikatakan pada tanggal ganjil. Kesulitan ini dijawab dengan mengkompromikan bahwa lafal yang lahirnya menunjukkan genap itu adalah dihitung dari akhir bulan, sehingga malam dua puluh empat (yang genap) itu adalah malam ketujuh (dihitung dari belakang)."

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

NASKAH AKADEMIK KAJIAN KEBIJAKAN KURIKULUM SD

NASKAH AKADEMIK KAJIAN KEBIJAKAN KURIKULUM SD
KATA PENGANTAR
ABSTRAK
DAFTAR ISI
  1. BAB I PENDAHULUAN
    1. latar Belakang
    2. Landasan Yuridis
    3. Tujuan
  2. BAB II LANDASAN TEORETIS
    1. Pendidikan Dasar: Esensi dan Karakteristiknya
    2. Praktek Pendidikan Dasar di Indonesia
    3. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Dasar Di Masa Depan
  3. BAB III TEMUAN KAJIAN DAN PEMBAHASAN
    1. Hasil Kajian Dokumen Standar Isi
    2. Hasil Kajian Lapangan Implementasi Standar Isi
  4. BAB IV KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
    1. Kesimpulan
    2. Rekomendasi
    3. REFERENSI
  1. BAB I PENDAHULUAN
    1. LATAR BELAKANG
      1. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat serta globalisasi yang dewasa ini terjadi berdampak positif dan negatif terhadap kehidupan masyarakat, baik kehidupan individu maupun sosial kemasyarakatan. Dampak positif dari perkembangan iptek dan globalisasi tersebut adalah terbukanya peluang pasar kerja sesuai dengan kebutuhan masyarakat
        dan negara. Sedangkan dampak negatifnya adalah terjadinya perubahan nilai dan norma kehidupan yang seringkali kontradiksi dengan norma dan nilai kehidupan yang telah ada di masyarakat.
      2. Dalam konteks inilah pendidikan, khususnya pendidikan dasar, berperan sangat penting untuk memelihara dan melindungi norma dan nilai kehidupan positif yang telah ada di masyarakat suatu negara dari pengaruh negatif perkembangan iptek dan globalisasi. Proses pendidikan yang benar dan bermutu akan memberikan bekal dan kekuatan untuk memelihara
        ”jatidiri” dari pengaruh negatif globalisasi, bukan hanya untuk kepentingan individu peserta didik, tetapi juga untuk kepentingan kehidupan masyarakat dan negara yang lebih baik.
      3. Oleh karena proses pendidikan itu terjadi di masyarakat, dengan menggunakan berbagai sumber daya masyarakat dan untuk masyarakat, maka pendidikan dituntut untuk mampu memperhitungkan dan melakukan antisipasi terhadap kebutuhan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, sosial, ekonomi, politik, dan kenegaraan secara simultan. Pengembangan pendidikan untuk kepentingan masa depan bangsa dan negara yang lebih baik perlu dirancang secara terpadu sejalan dengan aspek-aspek tersebut di atas, sehingga pendidikan merupakan wahana pengembangan sumber daya manusia yang mampu menjadi ”subyek” pengembangan iptek dan globalisasi. Selain itu, pengembangan pendidikan secara mikro harus selalu memperhitungkan individualitas atau karakteristik perbedaan antar individu peserta didik pada setiap jenjang dan jenis pendidikan. Dengan demikian, kerangka acuan pemikiran dalam penataan dan pengembangan kurikulum pendidikan dasar harus mampu mengakomodasi berbagai pandangan tentang esensi dan fungsi pendidikan dasar
        secara selektif, sehingga terdapat keterpaduan dalam pemahaman terhadap pendidikan dasar.
      4. Dengan pemahaman yang sinergis terhadap esensi dan fungsi pendidikan dasar tersebut, diharapkan masa depan pendidikan dasar di Indonesia akan lebih efektif dan lebih bermutu dalam penataannya, sehingga memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pembentukan insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif.

      Gambaran Selengkapnya Silahkan DOWNLOAD DISINI File Bentuk PDF
      Gambaran Selengkapnya Silahkan DOWNLOAD DISINI File Bentuk DOC

    ِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ
    Shahih Bukhari
    -Imam Bukhari-
    Kitab Keutamaan Lailatul Qadar

    Bab 1: Keutamaan Lailatul Qadar Allah berfirman, "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan, tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar."(al-Qadr: 1-5)
    Ibnu 'Uyainah berkata, "Apa yang disebutkan di dalam AI-Qur'an dengan kata 'Maa adraaka' 'apakah yang telah memberitahukan kepadamu' sesungguhnya telah diberitahukan oleh Allah. Apa yang disebutkan dengan kata kata 'Maa yudriika' 'apakah yang akan memberitahukan kepadamu', maka Allah belum memberitahukannya."[1]
    (Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Abu Hurairah yang tertera pada nomor 26 di muka.")
    [1] Di-maushul-kan oleh Muhammad bin Yahya bin Abu Umar di dalam Kitab Al-Iman, "Telah diinformasikan kepada kami oleh Sufyan bin Uyainah. Lalu, ia menyebutkan riwayat itu."

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

GAMBARAN GAGASAN KURIKULUM MASA DEPAN

GAMBARAN GAGASAN KURIKULUM MASA DEPAN
  1. Kualitas sumber daya manusia bangsa Indonesia saat ini masih sangat rendah jika dibandingkan dengan negara lain bahkan dengan sesama anggota ASEAN. Salah satu faktor utama rendahnya kualitas sumber daya manusia ini tentu berhubungan dengan dunia pendidikan nasional. Program pendidikan nasional yang dirancang diyakini belum berhasil menjawab harapan dan tantangan masa kini maupun di masa depan.
  2. Dalam menghadapi harapan dan tantangan di masa depan, pendidikan merupakan
    sesuatu yang sangat berharga dan dibutuhkan. Pendidikan di masa depan memainkan peranan yang sangat fundamental di mana cita-cita suatu bangsa dan negara dapat diraih. Bagi masyarakat suatu bangsa, pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang akan menentukan masa depannya.
  1. Menghadapi masa depan yang sudah pasti diisi dengan arus globalisasi dan
    keterbukaan serta kemajuan dunia informasi dan komunikasi, pendidikan akan semakin dihadapkan terhadap berbagai tantangan dan permasalahan yang lebih rumit dari pada masa sekarang atau sebelumnya. Untuk itu, pembangunan di sektor pendidikan di masa depan perlu dirancang sedini mungkin agar berbagai tantangan dan permasalahan tersebut dapat diatasi. Dunia pendidikan nasional perlu dirancang agar mampu melahirkan generasi atau sumber daya manusia yang memiliki keunggulan pada era globalisasi dan keterbukaan arus informasi dan kemajuan alat komunikasi yang luar biasa.
  2. Dalam membangun pendidikan di masa depan perlu dirancang sistem pendidikan
    yang dapat menjawab harapan dan tantangan terhadap perubahan-perubahan yang terjadi. Sistem pendidikan yang dibangun tersebut perlu berkesinambungan dari pendidikan prasekolah, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.
    Salah satu dimensi yang tidak bisa dipisahkan dari pembangunan dunia pendidikan nasional di masa depan adalah kebijakan mengenai kurikulum. Kurikulum merupakan jantungnya dunia pendidikan. Untuk itu, kurikulum di masa depan perlu dirancang dan disempurnakan untuk meningkatkan mutu pendidikan secara nasional dan meningkatkan mutu sumber daya manusia Indonesia. Mutu pendidikan yang tinggi diperlukan untuk menciptakan kehidupan yang cerdas, damai, terbuka, demokratis, dan mampu bersaing sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan semua warga negara Indonesia.
  3. Kesejahteraan bangsa Indonesia di masa depan bukan lagi bersumber pada sumber daya alam dan modal yang bersifat fisik, tetapi bersumber pada modal intelektual, modal sosial, dan kredibilitas sehingga tuntutan untuk terus menerus memutakhirkan pengetahuan menjadi suatu keharusan. Mutu lulusan tidak cukup bila diukur dengan standar lokal saja sebab perubahan global telah sangat besar mempengaruhi ekonomi suatu bangsa. Terlebih lagi, industri baru dikembangkan dengan berbasis kompetensi tingkat tinggi, maka bangsa yang berhasil adalah bangsa yang berpendidikan dengan standar mutu yang tinggi.
  4. Agar lulusan pendidikan nasional memiliki keunggulan kompetitif dan komperatif sesuai standar mutu nasional dan internasional, kurikulum di masa depan perlu dirancang sedini mungkin. Hal ini harus dilakukan agar sistem pendidikan nasional dapat merespon secara proaktif berbagai perkembangan informasi, ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Dengan cara seperti ini lembaga pendidikan tidak akan kehilangan relevansi program pembelajarannya terhadap kepentingan peserta didik.
  5. Untuk menjawab tantangan di atas, Pusat Kurikulum menyelenggarakan kegiatan
    ”Kajian Kebijakan Kurikulum”. Salah satu langkah yang dilakukan adalah “Seminar Kurikulum Masa Depan”. Berikut ini adalah rangkuman gagasan tentang kurikulum masa depan yang muncul dalam seminar tersebut.
Gambaran Selengkapnya Silahkan DOWNLOAD DISINI File Bentuk PDF
Gambaran Selengkapnya Silahkan DOWNLOAD DISINI File Bentuk DOC

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ  
Shahih Bukhari  
-Imam Bukhari-  
Kitab Shalat Tarawih  

Bab 1: Keutamaan Orang yang Mendirikan Shalat Sunnah pada Bulan Ramadhan  
985. Abu Hurairah رضي الله عنه mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, "Barangsiapa yang mendirikan (shalat malam) Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosanya yang telah lampau." Ibnu Syihab berkata, "Kemudian Rasulullah wafat sedangkan hal itu (shalat tarawih itu) tetap seperti itu. Selanjutnya, hal itu pun tetap begitu pada masa pemerintahan Abu Bakar dan pada masa permulaan pemerintahan Umar."[1]
986. Abdurrahman bin Abd al-Qariy[2] berkata, "Saya keluar bersama Umar ibnul Khaththab pada suatu malam dalam bulan Ramadhan sampai tiba di masjid. Tiba-tiba orang-orang berkelompok-kelompok terpisah-pisah. Setiap orang shalat untuk dirinya sendiri. Ada orang yang mengerjakan shalat, kemudian diikuti oleh sekelompok orang. Maka, Umar berkata, 'Sesungguhnya aku mempunyai ide. Seandainya orang-orang itu aku kumpulkan menjadi satu dan mengikuti seorang imam yang pandai membaca Al-Qur'an, tentu lebih utama.' Setelah Umar mempunyai azam (tekad) demikian, lalu dia mengumpulkan orang menjadi satu untuk berimam kepada Ubay bin Ka'ab.[3] Kemudian pada malam yang lain aku keluar bersama Umar, dan orang-orang melakukan shalat dengan imam yang ahli membaca Al-Qur'an. Umar berkata, 'Ini adalah sebagus-bagus bid'ah (barang baru). Orang yang tidur dulu dan meninggalkan shalat pada permulaan malam (untuk melakukannya pada akhir malam) adalah lebih utama daripada orang yang mendirikannya (pada awal malam).' Yang dimaksudkan olehnya ialah pada akhir malam. Adapun orang-orang itu mendirikannya pada permulaan malam."  
[1] Perkataan Ibnu Syihab pada bagian ini adalah mursal. Tetapi, bagian pertamanya diriwayatkan secara maushul, dan sudah disebutkan pada bagian akhir hadits Aisyah dalam hadits nomor 398.
[2] Abd dengan harkat tanwin pada huruf dal. Dan, al-Qariy dengan memberi tasydid pada huruf ya', adalah nisbat kepada Qarah bin Daisy, pegawai Sayyidina Umar yang mengurusi baitul mal kaum muslimin. [3] Diperintahkannya Ubay mengimami orang banyak dengan sebelas rakaat sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Malik dengan sanad yang sahih, seperti yang telah saya tahqiq di dalam kitab saya Shalat at-Tarawih (halaman 5254). Saya tegaskan di sana bahwa semua riwayat dari Umar yang bertentangan dengan riwayat ini adalah tidak sah isnadnya. Demikian juga yang diriwayatkan dari Ali dan Ibnu Mas'ud, semuanya lemah, tidak sah, sebagaimana dapat Anda lihat penjelasannya di sana.

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Sabtu, September 05, 2009

NASKAH AKADEMIK KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN JENJANG PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH

NASKAH AKADEMIK KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN JENJANG PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
Pengantar
Daftar Isi
  1. BAB I. PENDAHULUAN
    1. Latar Belakang
    2. Tujuan
  2. BAB II LANDASAN
    1. Landasan Yuridis
    2. Landasan Teoritis
      1. Pengertian Kurikulum
      2. Konsep dan Model-Model Kurikulum
        1. Kurikulum Subyek Akademik
        2. Kurikulum Humanistik
        3. Kurikulum Rekonstruksi Sosial
        4. Kurikulum Kompetensi
      3. Manajemen Kurikulum
        1. Manajemen pengembangan kurikulum sentralistik
        2. Manajemen pengembangan kurikulum desentralistik
        3. Landasan Empiris
            1. Keberagaman Budaya dan Suku Bangsa 
            2. Potensi dan Karakteristik Siswa 
            3. Ragam Kualitas Pendidikan di Tiap Daerah 
            4. Globalisasi 5. Kompetensi Sumber Daya Manusia 
            6. Manajemen Berbasis Sekolah 
            7. Tuntutan Relevansi Pendidikan 
            8. Inovasi Pendidikan
    3. BAB III. KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN
      1. Pengembangan KTSP
      2. Implementasi Kurikulum
      3. Ruang Lingkup
    4. BAB IV. KESIMPULAN DAN SARAN TINDAK LANJUT
      1. Kesimpulan
      2. Saran Tindak Lanjut
      3. Daftar Pustaka
  1. BAB I. PENDAHULUAN
    1. Latar Belakang
      1. Pendidikan dalam konteks pembangunan nasional mempunyai tugas: (1) pemersatu bangsa, (2) penyamaan kesempatan, dan (3) pengembangan potensi diri. Pendidikan diharapkan dapat memperkuat keutuhan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik
        Indonesia (NKRI), memberi kesempatan yang sama bagi setiap warga negara untuk berpartisipasi dalam pembangunan, dan memungkinkan setiap warga negara untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal.
      2. Mutu pendidikan dipengaruhi oleh mutu proses belajar mengajar; sedangkan mutu proses belajar mengajar ditentukan oleh berbagai komponen yang saling terkait satu sama lain, yaitu input peserta didik, kurikulum, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana prasarana, dana, manajemen, dan lingkungan.
      3. Kurikulum merupakan salah satu komponen pendidikan yang sangat strategis
        karena merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran memberikan makna bahwa di dalam kurikulum terdapat panduan interaksi antara guru dan peserta didik. Dengan demikian, kurikulum berfungsi sebagai “nafas atau inti” dari proses pendidikan di sekolah untuk
        memberdayakan potensi peserta didik.
      4. Seiring dengan perubahan pengelolaan pemerintahan, yang memasuki era desentralisasi, diikuti dengan perubahan pengelolaan pendidikan berupa desentralisasi pendidikan, otonomi pendidikan, dan otonomi manajemen sekolah, maka kurikulum yang sifatnya sentralistik seperti Kurikulum 1994 dan kurikulum-kurikulum sebelumnya, sudah tidak sesuai lagi dengan era otonomi manajemen sekolah. Dengan Kurikulum 1994 yang sentralistik, di mana satu kurikulum diberlakukan untuk semua peserta didik dari Sabang sampai Merauke, berarti kemampuan seluruh peserta didik seolah-olah dianggap sama. Padahal, kenyataannya kemampuan setiap peserta didik berbeda satu sama lain, berbeda antara daerah yang satu dengan daerah yang lain, berbeda antara sekolah yang satu dengan sekolah yang lain; dan yang paling memahami kemampuan setiap peserta didik adalah guru-guru yang bersangkutan. Oleh karena itu, yang paling ideal menyusun kurikulum tingkat satuan pendidikan saat ini adalah para guru yang bersangkutan. Hal inilah antara lain yang mendasari perlunya penyempurnaan kurikulum

      Gambaran Selengkapnya Silahkan DOWNLOAD DISINI File Bentuk PDF
      Gambaran Selengkapnya Silahkan DOWNLOAD DISINI File Bentuk DOC

    بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ
    Shahih Bukhari
    -Imam Bukhari-
    Kitab Puasa

    Bab 21: Apabila Berniat Puasa pada Siang Hari
    Ummu Darda' berkata, "Abud Darda' biasa bertanya, 'Apakah engkau mempunyai makanan?' Jika kami jawab, 'Tidak', dia berkata, 'Kalau begitu, saya berpuasa hari ini.'"[11]
    Demikian pula yang dilakukan oleh Abu Thalhah, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, dan Hudzaifah.[12]
    936. Salamah ibnul Akwa' رضي الله عنها mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم mengutus seseorang untuk mengumumkan kepada manusia pada hari Asyura, (dalam satu riwayat: Beliau bersabda kepada seorang laki-laki dari suku Aslam, "Umumkanlah kepada kaummu atau kepada masyarakat 8/136) bahwa orang yang sudah makan bolehlah ia meneruskannya atau hendaklah ia berpuasa pada sisa harinya. Sedangkan, yang belum makan, maka janganlah makan." (Dalam satu riwayat: "Hendaklah ia berpuasa, karena hari ini adalah hari Asyura.")
    [11] Di-maushul-kan oleh Ibnu Abi Syaibah dan Abdur Razzaq dari jalan Ummu Darda' dengan sanad yang sahih.
    [12] Atsar Thalhajh di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq dan Ibnu Abi Syaibah dari dua jalan dari Anas, sanadnya sahih. Atsar Abu Hurairah di-maushul-kan oleh Baihaqi. Atsar Ibnu Abbas di-maushul-kan oleh Thahawi dengan sanad yang bagus (jayyid), dan atsar Hudzaifah di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq dan Ibnu Abi Syaibah.

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

CONTOH KAJIAN KEBIJAKAN KURIKULUM MAPEL MATEMATIKA

CONTOH KAJIAN KEBIJAKAN KURIKULUM MAPEL MATEMATIKA
DAFTAR ISI
ABSTRAK
  1. BAB I PENDAHULUAN
    1. Latar Belakang
    2. Landasan Yuridis
    3. Tujuan
  2. BAB II TINJAUAN TEORETIS
    1. Kecenderungan Pembelajaran Matematik
    2. Pandangan Tentang Kurikulum
    3. Prinsip Pembelajaran Matematika
  3. BAB III TEMUAN KAJIAN DAN PEMBAHASAN
    1. Deskripsi Data Hasil Kajian Dokumen
    2. Standar Isi
    3. Deskripsi Data Hasil Kajian Pelaksanaan Standar Isi
    4. Pembahasan Temuan Dokumen dan Temuan Lapangan
  4. BAB IV KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
    1. Kesimpulan
    2. Rekomendasi
    3. DAFTAR PUSTAKA
  1. BAB I PENDAHULUAN
    1. Latar Belakang
      1. Menatap masa depan, matematika harus dipelajari siswa-siswa kita karena kegunaannya yang penting dalam kehidupan bangsa Indonesia. Penerapan matematika akhir-akhir ini telah berubah banyak dan cepat karena kehadiran dan perkembangan teknologi elektronik dalam dunia kerja. Pembelajaran matematika di tingkat satuan pendidikan harus dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sedang berlangsung. Kurikulum mata pelajaran matematika harus dirancang tidak hanya untuk siswa melanjutkan ke pendidikan tinggi tetapi juga untuk memasuki dunia pasar kerja. Pengembangan kurikulum matematika yang sedang berlangsung sekarang ini harus dipersiapkan dengan matang, dan dihasilkan dari kerja sama dan pertimbangan stakeholders.
      2. Upaya pemerintah, untuk memajukan pendidikan terlihat melalui Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Undang-undang ini mengamanatkan pembaharuan yang besar dalam system pendidikan kita. Sebagai kelanjutan dari Undang-undang tersebut, untuk pertama kalinya dalam pendidikan kita diharuskan ada standard nasional untuk isi atau disingkat Standar Isi (SI) melalui Permen No. 22 Tahun 2006. Karena standard ini bersifat Nasional maka haruslah setelah beberapa waktu SI tersebut dipenuhi oleh semua system pendidikan di Nusantara. Mengacu kepada SI ini juga standard yang lain seperti standard kompetensi guru dan standard buku/bahan ajar matematika dapat disusun rambu-rambu untuk menyusun kurikulum matematika.
      3. Namun demikian setelah kurang lebih satu tahun dikeluarkannya Permen No. 22
        Tahun 2006 tentang SI, ternyata masih mengalami masalah atau hambatan khususnya pada pelajaran matematika baik dari aspek pemahaman guru tentang dokumen SI maupun dalam aspek implementasi SI (proses penyusunan program dan kegiatan belajar-mengajar di kelas). Permasalahan tersebut antara lain kepadatan materi, SK dan KD dalam standar isi mata pelajaran matematika walaupun sudah merupakan perampingan dari kurikulum terdahulu. Namun dalam pelaksanaannya masih dirasakan padat oleh sebagian guru. Hal ini disebabkan SK dan KD berpotensi menimbulkan multi-interpretasi karena sifatnya yang terlalu umum bagi guru. Disamping itu masih ditemukan adanya tumpang tindih KD, beberapa kompetensi yang ada sebenarnya indikator, tujuan sama (over lapping) tetapi dituliskan dalam KD yang berbeda.

      Gambaran Selengkapnya Silahkan DOWNLOAD DISINI File Bentuk PDF
      Gambaran Selengkapnya Silahkan DOWNLOAD DISINI File Bentuk DOC

    بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ
    Shahih Bukhari
    -Imam Bukhari-
    Kitab Puasa

    Bab 51: Perihal Puasa Nabi dan Berbukanya
    967. Ibnu Abbas رضي الله عنه berkata, "Nabi tidak pernah berpuasa sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Beliau melakukan puasa (sunnah) sehingga ada orang yang mengatakan, 'Tidak, demi Allah, beliau tidak pernah berbuka (yakni tidak pernah tidak berpuasa). Dan beliau juga berbuka (yakni tidak melakukan puasa sunnah), sampai ada orang yang mengatakan, 'Tidak, demi Allah, beliau tidak pernah berpuasa (sunnah).'"
    968. Humaid berkata, "Saya bertanya kepada Anas tentang puasa Nabi, lalu ia berkata, 'Tidaklah beliau berpuasa di suatu bulan melainkan saya melihatnya, dan tidaklah beliau berbuka melainkan saya melihatnya. Tidaklah beliau berjaga malam melainkan saya melihatnya, dan tidaklah beliau tidur melainkan saya melihatnya. Saya tidak pernah menyentuh kain wool campur sutra atau sutra yang lebih halus daripada telapak tangan Rasulullah. Saya tidak pernah mencium minyak kasturi dan bau harum yang lebih harum daripada bau Rasulullah.'"

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Jumat, September 04, 2009

CONTOH MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS BAGI PESERTA DIDIK DI DAERAH TERPENCIL PENDIDIKAN DASAR

CONTOH MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS BAGI PESERTA DIDIK DI DAERAH TERPENCIL PENDIDIKAN DASAR
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
ABSTRAK
  1. BAB I PENDAHULUAN
    1. LATAR BELAKANG
    2. LANDASAN HUKUM
    3. TUJUAN
    4. RUANG LINGKUP
      1. Lingkup Daerah
      2. Lingkup Jenjang Pendidikan
    5. HASIL AKHIR YANG DICAPAI
  2. BAB II PENGEMBANGAN KONSEP
    1. PENGERTIAN DAN KARAKTERISTIK DAERAH TERPENCIL
    2. KENDALA PENDIDIKAN DI DAERAH TERPENCIL PEMBERDAYAAN PENDIDIKAN DI DAERAH TERPENCIL
    3. BENTUK PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS DI DAERAH TERPENCIL
    4. PENGEMBANGAN MODEL KURIKULUM UNTUK DAERAH TERPENCIL
    5. MODEL PEMBELAJARAN KELAS RANGKAP
      1. Definisi Kelas Rangkap
      2. Prinsip Pengembangan Kurikulum Untuk Kelas Rangkap
      3. Tujuan
      4. Pengorganisasian Kurikulum Kelas Rangkap
      5. Strategi Pengajaran Kelas Rangkap
      6. Pengorganisasian Kelas pada Kelas Rangkap
      7. Struktur dan Muatan Kurikulum pada Kelas Rangkap
    6. PENILAIAN
    7. TAHAPAN PENGORGANISASIAN KURIKULUM MODEL PENGAJARAN KELAS RANGKAP
      1. Pengorganisasian Kurikulum Kelas Rangkap Dengan 2 Tingkatan Kelas
      2. Pengorganisasian Kurikulum Kelas Rangkap Dengan 3 Tingkatan Kelas
  3. BAB III METODOLOGI
    1. WAKTU DAN TEMPAT
    2. CARA PENGUMPULAN DATA
    3. TEKNIS ANALISIS
    4. HASIL DAN PEMBAHASAN
  4. BAB IV PENUTUP
    1. KESIMPULAN
    2. SARAN/REKOMENDASI
    3. LAMPIRAN:
    4. DAFTAR PUSTAKA
      1. KTSP Pendidikan Layanan Khusus untuk Daerah Terpencil SDN Gunungsari 4, Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu - Jawa Timur
      2. KTSP Pendidikan Layanan Khusus untuk Daerah Terpencil:
        SDN Cimahi 2, Dusun Cipurut, Desa Cimahi, Kecamatan Caringin, Kabupaten Garut, JawaBarat.
      3. KTSP Pendidikan Layanan Khusus untuk Daerah Terpencil:
        SDN 11 Tapang Sebeluh, Dusun Tapang Sebeluh, Desa Malenggang, Kecamatan Sekayam, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat
  1. BAB I PENDAHULUAN
    1. LATAR BELAKANG
      1. Salah satu kunci utama keberhasilan pendidikan adalah meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).Oleh karena itu, maka tujuan pembangunan nasional hendaknya diarahkan pada upaya peningkatan kualitas pendidikan, kesejahteraan dan kualitashidup masyarakat secara merata, dan tidak menimbulkan sikap di seluruh pelosok tanah air. setiap warga negara atau seluruh min memiliki hak yang sama dalam hak untuk memperoleh pendidikan
      2. Pemerintah menyadari bahwa kondisi pendidikan negeri kita perlu terus dibenahi, dan
        tentunya diperlukan strategi yang tepat, terencana dan simultan. Oleh karena itu, dalam rangka meningkatkan angka partisipasi pendidikan dasar, pemerintah mencanangkan program Pendidikan Layanan Khusus (PLK) pada tahun 2006. Sesuai dengan Undang- undang Sistem Pendidikan Nasional, khususnya pasal 32, PLK ini ditujukan bagi peserta didik yang berada di daerah pelosok, terpencil, Komunitas Adat Terpencil
        (KAT), daerah konflik, mengalami bencana alam, bencana sosial dan tidak mampu
        dari segi ekonomi.
      3. Kondisi daerah yang relatif belum maju, tertinggal, terisolir dan terpencil sangat membutuhkan intervensi kebijakan pembangunan dari pemerintah, sehingga diharapkan dapat mempercepat pembangunan di daerah ini. Berkenaan dengan itu, pemerintah telah melakukan berbagai terobosan pengentasan kemiskinan dan ketertinggalan pada masyarakat di daerah terpencil, sehingga kesenjangan sosial dengan masyarakat perkotaan tidak terlalu jauh bahkan jika bisa harus setara dan segera dapat diatasi. Upaya yang dilakukan pemerintah antara lain program Gerakan Percepatan Pemberantasan Buta Aksara dan Program Akselerasi Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun.

      Gambaran Selengkapnya Silahkan DOWNLOAD DISINI File Bentuk PDF
      Gambaran Selengkapnya Silahkan DOWNLOAD DISINI File Bentuk DOC Download Juga Lampiran – Lampiran Di Bawah Ini  
      1. Lampiran 1 KTSP PLK Terpencil File Bentuk PDF  
      2. Lampiran 1 KTSP PLK Terpencil File Bentuk DOC

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ  
Shahih Bukhari  
-Imam Bukhari-  
Kitab Puasa  

Bab 20: Keberkahan Sahur, Tetapi Tidak Diwajibkan   Karena Nabi صلی الله عليه وسلم dan para sahabat beliau pernah melakukan puasa wishal (bersambung dua hari), dan tidak disebut-sebut tentang sahur.[10]  
934. Abdullah Ibnu Umar رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi melakukan puasa wishal, lalu orang-orang melakukan puasa wishal. Tetapi, kemudian mereka merasa keberatan, lalu dilarang oleh beliau. Mereka berkata, 'Tetapi engkau melakukan puasa wishal (terus-menerus)?" Beliau bersabda, "Aku tidak seperti kamu, aku senantiasa (dalam satu riwayat: pada malam hari) diberi makan dan minum."  
935. Anas bin Malik رضي الله عنه berkata, "Nabi bersabda, 'Makan sahurlah, sesungguhnya dalam sahur itu terdapat berkah.'"  
[10] Menunjuk kepada hadits Ibnu Umar yang disebutkan dalam bab ini, dan yang sama dengannya adalah hadits Anas yang akan disebutkan pada "48 - BAB" dan hadits Abu Hurairah sesudahnya.

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

CONTOH MODEL KURIKULUM BAGI PESERTA DIDIK PENDIDIKAN DASAR YANG TINGGAL DI DAERAH PERBATASAN NEGARA

CONTOH MODEL KURIKULUM BAGI PESERTA DIDIK PENDIDIKAN DASAR
YANG TINGGAL DI DAERAH PERBATASAN NEGARA

DAFTAR ISI
ABSTRAK
  1. BAB I PENDAHULUAN
    1. Latar Belakang
    2. Landasan Hukum
    3. Tujuan
    4. Ruang Lingkup.
  2. BAB II PENGERTIAN DAN KARAKTERISTIK DAERAH PERBATASAN NEGARA
    1. Pengertian
    2. Karakteristik Daerah Perbatasan.
  3. BAB III MODEL KURIKULUM LAYANAN KHUSUS PENDIDIKAN DASAR BAGI PESERTA DIDIK DI DAERAH PERBATASAN
    1. Pendekatan Tematik
    2. Pendekatan Pembelajaran
    3. Muatan Lokal
    4. Pengembangan Diri
    5. Pembiasaaan
    6. Ekstrakurikuler
    7. Visi dan Misi
    8. Pendidikan Kecakapan Hidup
    9. Rambu-Rambu Penyusunan KTSP.
  4. BAB IV PENUTUP
    1. DAFTAR PUSTAKA
    2. LAMPIRAN
      1. Kurikulum SDN 1 Sebatik
      2. Kurikulum SDN 01 Semanget
      3. Kurikulum SD Inpres Tasi Feto Timur
  1. BAB I PENDAHULUAN
    1. Latar Belakang
      1. Indonesia merupakan negara kepulauan dengan garis pantai sekitar 81.900 kilometer, memiliki wilayah perbatasan dengan banyak negara, baik perbatasan darat (kontinen) maupun laut (maritim). Batas darat wilayah Republik Indonesia berbatasan langsung dengan Malaysia, Papua Nugini (PNG), dan Timor Leste. Perbatasan darat Indonesia tersebar di 3 pulau, 4 provinsi, dan 15 kabupaten/kota yang masing-masing memiliki karakteristik perbatasan yang berbeda-beda. Demikian pula dengan negara tetangga perbatasan yang memiliki karakteristik berbeda, baik dari segi kondisi sosial, ekonomi, politik maupun budaya. Wilayah laut Indonesia berbatasan dengan 10 negara, yaitu India, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Filipina, Republik Palau, Australia, Timor Leste, dan Papua Nugini (PNG). Pada umumnya, wilayah perbatasan laut berupa pulau-pulau terluar yang berjumlah 92 pulau, termasuk pulau-pulau kecil. Beberapa di antaranya masih perlu penataan dan pengelolaan secara lebih intensif karena masih mempunyai permasalahan dengan negara tetangga.
      2. Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJM-Nasional 2004--2009) telah menetapkan arah dan pengembangan wilayah perbatasan negara sebagai salah satu program prioritas pembangunan nasional. Pembangunan wilayah perbatasan memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan misi pembangunan nasional, terutama untuk menjamin keutuhan dan kedaulatan wilayah, mempertahankan keamanan nasional, serta meningkatkan kesejahteraan rakyat di wilayah perbatasan. Paradigma baru tentang pengembangan wilayah-wilayah perbatasan adalah dengan mengubah arah kebijakan pembangunan yang selama ini cenderung berorientasi inward looking menjadi outward looking sehingga wilayah tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pintu gerbang aktivitas ekonomi dan perdagangan dengan negara tetangga. Pendekatan pembangunan wilayah perbatasan negara menggunakan pendekatan kesejahteraan (prosperity approach) dengan tidak meninggalkan pendekatan keamanan (security approach), sedangkan program pengembangan wilayah perbatasan (RPJM Nasional 2004--2009) bertujuan (a) menjaga keutuhan wilayah NKRI melalui penetapan hak kedaulatan NKRI yang dijamin oleh hukum internasional; (b) meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat dengan menggali potensi ekonomi, sosial dan budaya, serta keuntungan lokasi geografis yang sangat strategis untuk berhubungan dengan negara tetangga.

      Gambaran Selengkapnya Silahkan DOWNLOAD DISINI File Bentuk PDF
      Gambaran Selengkapnya Silahkan DOWNLOAD DISINI File Bentuk DOC
    Download Juga Lampiran – Lampiran Di Bawah Ini
    1.  Lampiran 1 10 b File Bentuk ZIP(PDF)
    2.  Lampiran 1 10 b File Bentuk ZIP(DOC)
    3.  Lampiran 2 10 c File Bentuk ZIP(PDF)
    4.  Lampiran 2 10 c File Bentuk ZIP(DOC)
    5.  Lampiran 3 10 d File Bentuk ZIP(PDF)
    6.  Lampiran 3 10 d File Bentuk ZIP(DOC)
    7.  Lampiran 4 10 d5 File Bentuk ZIP(PDF)
    8.  Lampiran 4 10 d5 File Bentuk ZIP(DOC)



    بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ
    Shahih Bukhari
    -Imam Bukhari-
    Kitab Puasa

    Bab 26: Orang yang Berpuasa Jika Makan atau Minum karena Lupa
    Atha' berkata, "Jika seseorang memasukkan air ke hidung dan hendak menyemprotkannya, lalu airnya ada yang masuk ke dalam tenggorokannya, maka puasanya tidak batal, jika ia tidak mampu menolaknya."[32]
    Hasan berkata, "Manakala tenggorokan orang yang berpuasa itu kemasukan lalat, maka puasanya tidak batal."[33]
    Hasan dan Mujahid berkata, "Jika orang yang berpuasa itu bersetubuh karena lupa, maka puasanya tidak batal."[34]
    941. Abu Hurairah رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, "Apabila (orang yang berpuasa) lupa, lalu ia makan dan minum, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya. Karena sesungguhnya Allah memberinya makan dan minum."
    [32] Di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq (7379) dan Ibnu Abi Syaibah (3/70) dengan sanad yang sahih.
    [33] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (3/107) dengan isnad yang sahih.
    [34] Di-maushul-kan oleh Abdur Razzaq dengan dua isnad dari al-Hasan dan Mujahid, dan riwayat Mujahid adalah sahih.

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

CONTOH MODEL KURIKULUM PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS SMP/MTs YANG MEMILIKI PESERTA DIDIK DENGAN SOSIAL EKONOMI RENDAH

CONTOH MODEL KURIKULUM PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS SMP/MTs
YANG MEMILIKI PESERTA DIDIK DENGAN SOSIAL EKONOMI RENDAH

ABSTRAKSI
DAFTAR ISI
  1. BAB I PENDAHULUAN
    1. Latar Belakang
    2. Landasan
    3. Tujuan
    4. Ruang Lingkup
    5. Manfaat
  2. BAB II PENGEMBANGAN KONSEP
    1. Kerangka Teori
      1. Pengertian dan Konsep Kurikulum
      2. Komponen Kurikulum
      3. Konsep dan Karakteristik Sosial Ekonomi Rendah
    2. Model Kurikulum Pendidikan Layanan Khusus SMP/MTs yang Memiliki Peserta Didik dengan Sosial Ekonomi Rendah
      1. Layanan Khusus bagi Peserta Didik dengan Sosial Ekonomi Rendah
      2. Model Kurikulum Pendidikan Layanan Khusus SMP/MTs yang Memiliki Peserta Didik dengan Sosial Ekonomi Rendah
  3. BAB III METODOLOGI
    1. Waktu dan Tempat
    2. Cara Pengumpulan Data
    3. Teknik Analisis
    4. Hasil dan Pembahasan
  4. BAB IV PENUTUP
    1. Kesimpulan
    2. Saran/Rekomendasi
  5. LAMPIRAN
  6. DAFTAR PUSTAKA
  1. BAB I PENDAHULUAN
    1. Latar Belakang
      1. Pembangunan dalam bidang pendidikan merupakan salah satu prioritas utama pembangunan nasional karena perannya yang signifikan dalam mencapai kemajuan di berbagai bidang kehidupan: sosial, ekonomi, politik, dan budaya. Dalam pembukaan UUD 1945 disebutkan bahwa pemerintah wajib mencerdaskan kehidupan bangsa dan menciptakan kesejahteraan umum. Pendidikan menjadi landasan yang kuat untuk meraih kemajuan bangsa di masa depan dan untuk menghadapi era global yang sarat dengan persaingan antarbangsa. Untuk itu pemerintah berkewajiban memenuhi hak setiap warga negara dalam memperoleh layanan pendidikan guna meningkatkan kualitas hidup bangsa Indonesia sebagaimana diamanatkan UUD 1945.
      2. Secara menyeluruh kualitas manusia Indonesia relatif masih sangat rendah. Berdasarkan Human Development Report 1999-2005 yang dikeluarkan BPS, pada tahun 2005 rata-rata HDI (Human Development Index) Indonesia 69,6%, rata-rata angka harapan hidup penduduk Indonesia 68,1%, rata-rata angka melek huruf dan lama sekolah masing-masing 90,9% dan 7,3 tahun, serta rata-rata pengeluaran riil per kapita yang disesuaikan sebesar USD.619,9. Pada tahun 2005, HDI Daerah Khusus Ibukota (DKI) sebesar 76,1%, merupakan propinsi dengan HDI tertinggi di Indonesia dan Papua dengan HDI sebesar 62,1% merupakan propinsi dengan HDI terendah di Indonesia.
      3. Menurut data Susenas 2006, rata-rata penduduk yang terdaftar di sekolah dengan usia 13 – 15 tahun sebesar 84,08% dan usia 16 – 18 tahun sebesar 53,92%. Di sini terlihat jelas perbedaan yang cukup signifikan. Angka penduduk yang berdasarkan umur seharusnya terdaftar di SMP/MTs (13 – 15 tahun) dan yang terdaftar di SMA/MA/SMK/MAK (16 –18 tahun). Perbedaan ini antara lain disebabkan oleh keinginan untuk langsung bekerja bagi lulusan SMP/MTs.
      4. Di sini ada faktor opportunity cost yang perlu dipertimbangkan mengingat mereka yang telah menamatkan SMP/MTs pada umumnya berusia 15 tahun ke atas sehingga dorongan untuk memasuki lapangan kerja lebih awal cukup tinggi. Terlebih lagi bagi anak-anak yang berasal dari keluarga dengan sosial ekonomi rendah. Agar dapat membantu meringankan beban ekonomi keluarga, mereka lebih memilih bekerja dibanding melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah. Di samping itu, rendahnya dukungan orang tua kepada anaknya untuk melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi masih menjadi kendala. 

      Gambaran Selengkapnya Silahkan DOWNLOAD DISINI File Bentuk PDF
      Gambaran Selengkapnya Silahkan DOWNLOAD DISINI File Bentuk DOC
    Doownload Juga Lampiran Di Bawah Ini
    Lampiran Contoh KTSP SMP File Bentuk PDF
    Lampiran Contoh KTSP SMP File Bentuk DOC


    بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ
    Shahih Bukhari
    -Imam Bukhari-
    Kitab Shalat Tarawih

    Bab 1: Keutamaan Orang yang Mendirikan Shalat Sunnah pada Bulan Ramadhan
    985. Abu Hurairah رضي الله عنه mengatakan bahwa Rasulullah bersabda, "Barangsiapa yang mendirikan (shalat malam) Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosanya yang telah lampau."
    Ibnu Syihab berkata, "Kemudian Rasulullah wafat sedangkan hal itu (shalat tarawih itu) tetap seperti itu. Selanjutnya, hal itu pun tetap begitu pada masa pemerintahan Abu Bakar dan pada masa permulaan pemerintahan Umar."[1]
    986. Abdurrahman bin Abd al-Qariy[2] berkata, "Saya keluar bersama Umar ibnul Khaththab pada suatu malam dalam bulan Ramadhan sampai tiba di masjid. Tiba-tiba orang-orang berkelompok-kelompok terpisah-pisah. Setiap orang shalat untuk dirinya sendiri. Ada orang yang mengerjakan shalat, kemudian diikuti oleh sekelompok orang. Maka, Umar berkata, 'Sesungguhnya aku mempunyai ide. Seandainya orang-orang itu aku kumpulkan menjadi satu dan mengikuti seorang imam yang pandai membaca Al-Qur'an, tentu lebih utama.' Setelah Umar mempunyai azam (tekad) demikian, lalu dia mengumpulkan orang menjadi satu untuk berimam kepada Ubay bin Ka'ab.[3] Kemudian pada malam yang lain aku keluar bersama Umar, dan orang-orang melakukan shalat dengan imam yang ahli membaca Al-Qur'an. Umar berkata, 'Ini adalah sebagus-bagus bid'ah (barang baru). Orang yang tidur dulu dan meninggalkan shalat pada permulaan malam (untuk melakukannya pada akhir malam) adalah lebih utama daripada orang yang mendirikannya (pada awal malam).' Yang dimaksudkan olehnya ialah pada akhir malam. Adapun orang-orang itu mendirikannya pada permulaan malam."
    [1] Perkataan Ibnu Syihab pada bagian ini adalah mursal. Tetapi, bagian pertamanya diriwayatkan secara maushul, dan sudah disebutkan pada bagian akhir hadits Aisyah dalam hadits nomor 398.
    [2] Abd dengan harkat tanwin pada huruf dal. Dan, al-Qariy dengan memberi tasydid pada huruf ya', adalah nisbat kepada Qarah bin Daisy, pegawai Sayyidina Umar yang mengurusi baitul mal kaum muslimin.
    [3] Diperintahkannya Ubay mengimami orang banyak dengan sebelas rakaat sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Malik dengan sanad yang sahih, seperti yang telah saya tahqiq di dalam kitab saya Shalat at-Tarawih (halaman 5254). Saya tegaskan di sana bahwa semua riwayat dari Umar yang bertentangan dengan riwayat ini adalah tidak sah isnadnya. Demikian juga yang diriwayatkan dari Ali dan Ibnu Mas'ud, semuanya lemah, tidak sah, sebagaimana dapat Anda lihat penjelasannya di sana.

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Kamis, September 03, 2009

CONTOH MODEL KURIKULUM BAGI PESERTA DIDIK YANG MENGALAMI KESULITAN BELAJAR

CONTOH MODEL KURIKULUM BAGI PESERTA DIDIK YANG MENGALAMI KESULITAN BELAJAR
Abstrak
Daftar Isi
  1. Bab I Pendahuluan

    1. Latar Belakang
    2. Landasan Hukum
    3. Tujuan
    4. Ruang Lingkup
  2. Bab II Pengembangan Konsep

    1. Definisi Kesulitan Belajar
    2. Karakteristik Kesulitan Belajar
    3. Klasifikasi
    4. Identifikasi
  3. Bab III Model Kurikulum Bagi Peserta Didik Berkesulitan Belajar

    1. Pendahuluan/Identitas Sekolah/Lembaga
    2. Perumusan Visi, Misi, Tujuan
    3. Struktur dan Muatan Kurikulum
    4. Kalender Pendidikan
    5. Perencanaan Pembelajaran bagi Peserta Didik Berkesulitan Belajar
    6. Kegiatan Pembelajaran bagi Peserta Didik Berkesulitan Belajar
    7. Penilaian
    8. Program Pembelajaran Individual (PPI)
  4. Bab IV Penutup

    1. Daftar Pustaka
    2. Format 1 - Program Pembelajaran Individual (PPI)
    3. Format 2 - Program Pembelajaran Individual (PPI)
    4. Contoh Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) untuk Peserta Didik yang
      Mengalami Kesulitan Belajar
  1. BAB I PENDAHULUAN

    1. Latar Belakang

      1. Tujuan pembangunan nasional mengarah pada upaya peningkatan kesejahteraan dan kualitas hidup secara merata di seluruh pelosok tanah air sesuai yang diamanatkan UUD 1945. Dengan demikian secara hukum seluruh warga negara dijamin untuk memiliki hak yang sama dalam menikmati hasil-hasil pembangunan termasuk hak untuk memperoleh pendidikan yang layak dan bermutu.
      2. Pendidikan yang layak dan bermutu merupakan sesuatu yang sangat penting dalam menumbuhkan hidup menjadi utuh dan sempurna. Melalui proses pendidikan itulah kepribadian individu dimatangkan dan dikembangkan, sehingga seorang peserta didik menjadi manusia yang dewasa, utuh, dan mandiri. Proses pendidikan tersebut sangat diperlukan bagi peserta didik, termasuk bagi peserta didik berkesulitan belajar.
      3. Harapan pemerintah untuk dapat melayani seluruh komponen masyarakat akan pendidikan yang layak dan bermutu selama ini belum sepenuhnya bisa terwujud dengan adanya berbagai kendala di berbagai aspek. Kendala tersebut terletak pada sisi komponen pendidikan itu sendiri sebagai subjek maupun pada kondisi masyarakat
        (peserta didik) sebagai objek.
      4. Salah satu aspek sisi komponen pendidikan yang menjadi kendala adalah belum adanya perangkat kurikulum yang dapat mengakomodasi dan melayani kebutuhan spesifik peserta didik. Sementara peserta didik sendiri memiliki kekhasan baik secara fisik, mental, sosial, emosional, maupun kecerdasan.
      5. Peserta didik berkesulitan belajar memerlukan perhatian khusus. Mereka memiliki kecerdasan rata-rata atau di atas rata-rata. Di sekolah reguler, peserta didik berkesulitan belajar umumnya tidak terdeteksi secara baik oleh guru. Mereka biasanya mengalami kesenjangan antara prestasi belajar dengan potensi yang dimilikinya.
      6. Sistem pembelajaran di sekolah reguler belum memungkinkan penyediaan layanan pendidikan yang sesuai untuk peserta didik berkesulitan belajar. Untuk itu diperlukan upaya-upaya tertentu agar peserta didik berkesulitan belajar di sekolah-sekolah reguler dapat ditangani.
      Gambaran Selengkapnya Silahkan DOWNLOAD DISINI File Bentuk PDF
      Gambaran Selengkapnya Silahkan DOWNLOAD DISINI File Bentuk DOC

    ِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ
    Shahih Bukhari
    -Imam Bukhari-
    Kitab Puasa

    Bab 60: Mengerjakan Puasa pada Akhir Bulan
    970. Imran bin Hushain رضي الله عنه mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bertanya kepada nya atau bertanya kepada seorang lelaki dan Imran mendengar. Beliau bersabda, "Hai ayah Fulan, tidakkah kamu berpuasa pada akhir bulan ini?" Imran berkata, "Saya kira yang beliau maksudkan itu Ramadhan." Orang itu menjawab, "Tidak, wahai Rasulullah." Beliau bersabda, "Apabila kamu berbuka (tidak berpuasa),[73] maka berpuasalah dua hari."[74] Shalt tidak mengatakan, "Saya mengira bahwa yang dimaksudkan itu adalah bulan Ramadhan." (Dalam satu riwayat: "Di akhir Sya'ban.")
    [73] Muslim menambahkan (3/168): "dan puasa Ramadhan".
    [74] Muslim juga menambahkan: "sebagai gantinya".

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Rabu, September 02, 2009

CONTOH MODEL KURIKULUMBAGI PESERTA DIDIK SOSIAL EKONOMI RENDAH PENDIDIKAN MENENGAH

CONTOH MODEL KURIKULUMBAGI PESERTA DIDIK SOSIAL EKONOMI RENDAH PENDIDIKAN MENENGAH
Abstrak
Kata Pengantar
Daftar Isi
  1. BAB I. PENDAHULUAN
    1. Latar Belakang
    2. Ruang Lingkup Masalah
    3. Perumusan Masalah
    4. Tujuan
    5. Hasil yang Diharapkan
    6. Kegunaan
  2. BAB II. PENGEMBANGAN MODEL
    1. Landasan Hukum
    2. Landasan Empiris
    3. Landasan Teori
      1. Kemiskinan dan Ciri-cirinya
      2. Pendidikan Layanan Khusus dan Kurikulum
      3. Sekolah Menengah Atas
      4. Sekolah Menengah Kejuruan
  3. BAB III. STRATEGI PENGEMBANGAN
    1. Pengembangan KTSP
    2. Penekanan dalam Pengembangan KTSP
      1. Prinsip Pengembangan KTSP
      2. Karakteristik Peserta Didik
      3. Perlakuan Khusus
      4. Tujuan Akhir
    3. Pengembangan Selanjutnya.
    4. Diagram Pengembangan Kurikulum PL Sosial Ekonomi Rendah
  4. BAB IV. METODOLOGI
    1. Strategi Pelaksanaan Kegiatan
    2. Strategi Kegiatan
    3. Unsur yang Terlibat
  1. BAB I PENDAHULUAN
    1. Latar Belakang
      1. Pendidikan adalah hak seluruh anak bangsa, tanpa kecuali! Karena hal ini menyangkut nasib generasi bangsa, yang juga menyangkut harkat dan martabat bangsa kita di masa depan agar menjadi masyarakat yang cerdas. Mencerdaskan anak bangsa bukanlah pekerjaan mudah, karena untuk mencerdaskan mereka yang berjumlah puluhan juta, bahkan ratusan juta, apalagi dengan kondisi geografis, sosial ekonomi, dan kultur yang berbeda-beda.
      2. Pendidikan bermutu tinggi memang membutuhkan biaya yang tidak sedikit, namun di sisi lain tidak sedikit masyarakat yang mengharapkan pendidikan gratis! Demikian juga harapan sebagian pejabat pemerintah dan tokoh masyarakat yang peduli pada nasib anak bangsa. Keinginan masyarakat miskin untuk mengenyam pendidikan bermutu adalah suatu hal keinginan yang wajar. Di pihak lain, masyarakat miskin/tidak mampu bukannya tidak memiliki kemauan, tetapi memang tidak mampu membayar biaya pendidikan yang tinggi. Untuk itu diperlukan sebuah solusi.
      3. Untuk mencapai pendidikan bermutu tinggi mutlak diperlukan sumber daya
        pendidikan yang lengkap dan representatif. Sumber daya pendidikan demikian memerlukan anggaran sangat besar. Namun kemampuan pemerintah masih terbatas, di sisi lain masih banyak masyarakat kita berkondisi sosial ekonomi sangat rendah.
      4. Dari hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) pada Maret 2006 oleh
        Badan Pusat Statistik (BPS), angka kemiskinan membengkak menjadi 39,05 juta jiwa atau 17,75 persen, dari Susenas 2005 berjumlah 35,10 juta atau 15,97 persen. Persentase penduduk miskin antara daerah perkotaan dan pedesaan tidak banyak berubah. Pada bulan Maret 2006, sebagian besar (63,41 persen) penduduk miskin berada di daerah pedesaan.
      5. Meningkatnya kemiskinan di Indonesia berdampak pada semakin tingginya
        anak putus sekolah, karena (sebagian dari) mereka (tidak mampu membayar uang sekolah dan sebagian lain) harus mengutamakan bekerja untuk membantu kondisi ekonomi keluarganya. Pendidikan menjadi kurang penting menurut kelompok masyarakat ini.

      Gambaran Selengkapnya Silahkan DOWNLOAD DISINI File Bentuk PDF
      Gambaran Selengkapnya Silahkan DOWNLOAD DISINI File Bentuk DOC

    بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ
    Shahih Bukhari
    -Imam Bukhari-
    Kitab Puasa

    Bab 18: Mengakhirkan Sahur[ 9 ]
    (Saya berkata, "Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Sahl yang tertera pada nomor 323 di muka.")
    [9] Demikianlah judul yang asli. Di dalam naskah al-Hafizh disebutkan Bab Ta'jilis-Sahur, dan ia berkata, "Ibnu Baththal berkata, 'Kalau bab ini diberi judul Bab Ta'khiris Sahur, niscaya bagus. Maghlathay memberi komentar bahwa dia menjumpai di dalam naskah lain dari al-Bukhari Bab Ta'khiris-Sahur. Tetapi, saya sama sekali tidak melihat hat itu di dalam naskah at Bukhari yang ada pada kami."

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

CONTOH MODEL PENERAPAN PENDIDIKAN MULTIKULTUR

CONTOH MODEL PENERAPAN PENDIDIKAN MULTIKULTUR
PADA JENJANG PENDIDIKAN MENENGAH
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
  1. BAB I. PENDAHULUAN
    1. Latar Belakang
    2. Tujuan Kegiatan
    3. Ruang Lingkup
  2. BAB II. LANDASAN
    1. Landasan Teoritis
    2. Landasan Yuridis
    3. Tujuan Pendidikan Multikultur
  3. BAB III. POLA PENGEMBANGAN MODEL PENERAPAN
    PENDIDIKAN MULTIKULTUR

    1. Prinsip Pengembangan Kurikulum
    2. Prinsip Pelaksanaan Kurikulum
    3. Langkah-Langkah Pengembangan
  4. BAB IV. PELAKSANAAN DAN IMPLIKASI PENGEMBANGAN
    MODEL PENERAPAN PENDIDIKAN MULTIKULTUR

    1. Pelaksanaan
    2. Implikasi
    3. DAFTAR PUSTAKA
    4. CONTOH Model Kurikulum SMAN 8 Bandung
      1. Dokumen 1: Kurikulum SMAN 8 Bandung
      2. Dokumen 2: Silabus dan RPP
  1. BAB I PENDAHULUAN
    1. Latar Belakang
      1. Pada dasarnya pendidikan adalah suatu usaha sadar manusia mempersiapkan generasi muda. Dalam mempersiapkan generasi muda tersebut pendidikan harus mulai dari hal- hal yang dimiliki atau dari apa yang sudah diketahui. Apa yang sudah dimiliki dan apa yang sudah diketahui itu adalah apa yang terdapat pada lingkungan terdekat peserta didik terutama yang berkaitan dengan lingkungan budaya.
      2. Pada pertengahan abad ke-20 Ki Hajar Dewantara mengemukakan bahwa pendidikan harus berakar pada kebudayaan yaitu “dalam garis-garis adab kemanusiaan seperti terkandung dalam pelajaran agama, maka pendidikan dan pengajaran nasional bersendi kepada agama dan kebudayaan bangsa serta menuju ke arah keselamatan dan kebahagiaan masyarakat“ Pendapat ini juga sejalan dengan pendapat Dewey yang mengatakan bahwa pendidikan harus berakar pada budaya peserta didik dan harus mempersiapkan peserta didik untuk dapat hidup dalam lingkungan budaya tersebut.
      3. Dewasa ini dapat dikatakan bahwa tidak ada bangsa di dunia ini yang memiliki nilai dan budaya yang homogen. Indonesia sebagai salah satu negara besar di kawasan Asia Tenggara memiliki keragaman budaya yang kompleks. Motto “Bhineka Tunggal Ika” yang tercantum dalam lambang negara kita sangat tepat dalam menggambarkan realita yang ada di negara kita. Data secara antropologis menunjukkan bahwa Indonesia memiliki lebih dari 300 suku bangsa yang memiliki keragaman sosial dan budaya. Kelompok-kolompok budaya besar seperti Aceh, Batak, Minangkabau, Dayak, Jawa, Bugis-Makasar, Ambon, Papua dan lain-lain adalah contoh dari keberagaman tersebut. Belum lagi kelompok-kelompok budaya yang relatif lebih kecil dibanding dengan kelompok pendukung kebudayaan sebelumnya.
      4. Dalam realita yang seperti ini maka pendidikan multikultur merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat dihindari. Sehingga sedikitnya ada empat alasan mengapa pendidikan multikultur diperlukan, empat alasan tersebut adalah:
    2. Laju perubahan dalam kehidupan manusia Indonesia yang disebabkan oleh kemajuan ekonomi dan teknologi informasi. Perubahan kehidupan yang disebabkan oleh kemajuan ekonomi telah memperbesar kesenjangan sosial (social gap) antara kelompok atas dan kelompok bawah, hal ini akan mengakibatkan semakin besarnya perbedaan dalam gaya hidup dan pandangan hidup dari kedua kelompok tersebut.
    3. Adanya mobilitas penduduk yang tinggi, menyebabkan adanya pertemuan yang
      intens antarkelompok dengan budaya yang berbeda. Untuk dapat menghasilkan kegiatan yang produktif perlu kedua kelompok memiliki pemahaman yang baik mengenai budaya kelompok lain.
    4. Kemajuan teknologi informasi telah membuka isolasi daerah pedesaan di Indonesia. Perkenalan dengan budaya-budaya lain dapat diperoleh secara mudah dari media elektronik yang mungkin saja dapat menimbulkan persepsi yang keliru
      dan tidak menguntungkan.
    5. Munculnya berbagai konflik antar budaya yang banyak terjadi akhir-akhir ini telah
      memperlihatkan adanya kesalah fahaman budaya yang sangat besar dari berbagai kelompok yang bertikai. Dampak pertikaian dapat menimbulkan trauma sosial yang memerlukan proses pendidikan untuk memperbaikinya.

    Gambaran Selengkapnya Silahkan DOWNLOAD DISINI File Bentuk PDF
    Gambaran Selengkapnya Silahkan DOWNLOAD DISINI File Bentuk DOC
Download Juga Lampiran – Lampiran Di Bawah Ini
1.  Lampiran 1 Contoh RPP Campuran File Bentuk PDF
2.  Lampiran 2 Contoh RPP Campuran File Bentuk DOC
3.  Lampiran 3 Contoh Silabus Campuran File Bentuk PDF
4.  Lampiran 4 Contoh Silabus Campuran File Bentuk DOC
5.  Lampiran 5 Contoh Silabus dan RPP Campuran File Bentuk PDF
6.  Lampiran 6 Contoh Silabus dan RPP Campuran File Bentuk DOC

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

MODEL DAN CONTOH MUATAN LOKAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH

MODEL DAN CONTOH MUATAN LOKAL PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH
(SD/MI/SDLB - SMP/MTs/SMPLB – SMA/MA/SMALB/SMK)
DAFTAR ISI
Abstrak
Kata Pengantar
Daftar Isi
  1. Bab I. PENDAHULUAN
    1. Latar Belakang
    2. Landasan
    3. Tujuan
  2. Bab II. KONSEP MODEL MUATAN LOKAL
    1. Pengertian
    2. Tujuan
    3. Kedudukan
    4. Ruang Lingkup
  3. BAB III STRATEGI PENGEMBANGAN
    1. Pengembangan
    2. Pihak Yang Terlibat dalam Pengembangan
    3. Rambu-rambu Pelaksanaan di Sekolah
  4. BAB IV TINDAK LANJUT
    1. Pengembangan Muatan Lokal di Sekolah
    2. Pelaksanaan Muatan Lokal di Sekolah
      1. LAMPIRAN-LAMPIRAN
        1. Contoh SD : SK, KD, SILABUS DAN RPP Matapelajaran Pendidikan
          Lingkungan dan Budaya Jakarta
        2. Contoh SMP : SK, KD, SILABUS DAN RPP Matapelajaran Tata Busana , Tata Boga dan Jasa Perniagaan
        3. Contoh SMA : SK, KD, SILABUS DAN RPP Mata Pelajaran
          Kewirausahaan, Bahasa Arab dan Bahasa Jepang.
  1. BAB I PENDAHULUAN
    1. Latar Belakang
      1. Keanekaragaman multikultur di Indonesia (adat istiadat suku bangsa, tata cara, bahasa, kesenian, kerajinan, keterampilan daerah) merupakan ciri khas yang memperkaya nilai-nilai kehidupan bangsa Indonesia. Oleh karena itu keanekaragaman tersebut harus selalu dilestarikan, dikembangkan,dan dipertahankan melalui upaya pendidikan.
      2. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi
        menyatakan bahwa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) selain memuat mata pelajaran, juga memuat Muatan Lokal yang wajib diberikan pada semua tingkat satuan pendidikan.
      3. Kebijakan yang berkaitan dengan dimasukkannya Muatan Lokal dalam Standar
        Isi dilandasi kenyataan bahwa di Indonesia terdapat beranekaragam kebudayaan. Sekolah tempat program pendidikan dilaksanakan merupakan bagian dari masyarakat. Oleh karena itu, program pendidikan di sekolah perlu memberikan wawasan yang luas pada peserta didik tentang kekhususan yang ada di lingkungannya.
      4. Pengenalan keadaan lingkungan, sosial, dan budaya kepada peserta didik memungkinkan mereka untuk lebih mengakrabkan dengan lingkungannya. Pengenalan dan pengembangan lingkungan melalui pendidikan diarahkan untuk menunjang peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan pada akhirnya diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik. Standar Isi yang seluruhnya disusun oleh Pemerintah Pusat tidak mungkin dapat mencakup Muatan Lokal tersebut. Sehingga perlulah disusun mata pelajaran yang berbasis pada Muatan Lokal.
      5. Muatan Lokal memberikan peluang kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilan lokal yang dianggap perlu oleh daerah yang bersangkutan. Oleh karena itu, Muatan Lokal harus memuat karakteristik budaya lokal, keterampilan, nilai-nilai luhur budaya setempat dan mengangkat permasalahan sosial dan lingkungan yang pada akhirnya mampu membekali siswa dengan keterampilan dasar sebagai bekal dalam kehidupan (life skill), serta dapat menciptakan lapangan pekerjaan.
    2. Landasan
      1. Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 31,
      2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
        Daerah Pasal 13 ayat 1 (f),
      3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
        Pendidikan Nasional Pasal 37 ayat (1) dan pasal 38 ayat (2),
      4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan,
      5. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah,
      6. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar
        Kompetensi Lulusan.

      Gambaran Selengkapnya Silahkan DOWNLOAD DISINI File Bentuk PDF
      Gambaran Selengkapnya Silahkan DOWNLOAD DISINI File Bentuk DOC
    Download Juga Lampiran – Lampiran Di Bawah Ini
    1.  Lampiran 1 Contoh RPP B Arab File Bentuk ZIP
    2.  Lampiran 2 Contoh RPP B Jepang File Bentuk ZIP
    3.  Lampiran 3 Contoh RPP Kewirausahaan File Bentuk ZIP
    4.  Lampiran 4 Contoh RPP Campuan File Bentuk ZIP
    5.  Lampiran 5 Contoh Silabus Campuran File Bentuk ZIP
    6.  Lampiran 6 Contoh SK - KD File Bentuk ZIP

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

KONSEP PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) FORMAL

KONSEP PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) FORMAL
DAFTAR ISI
  1. I Pendahuuluan
    1. Latar Belakang
    2. Pengertian
      1. Kurikulum
      2. Kerangka Pengembangan Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini
    3. Tujuan
    4. Ruang Lingkup
  2. II Landasan Pendidikan Anak Usia di Indonesia
    1. Landasan Yuridis
    2. Landasan Operasional
  3. III Konsep Teori Pengembangan Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini
    1. Pengertian Pendidikan Anak Usia Dini
    2. Tujuan Pendidikan Anak Usia Dini
    3. Hakikat Program Pembelajaran Bagi Anak Usia Dini
  4. IV Pendekatan dan Asas Pembelajaran Usia Dini
    1. Pendekatan Pembelajaran
    2. Asas-asas Pembelajaran
  5. V Struktur Kurikulum
  6. VI Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan Indikator Anak Usia Dini
    (Lahir – 6 Tahun)
  7. VII Pengembangan Kerangka Pengembangan Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini
    1. Arah dan Sasaran
    2. Prinsip Pengembangan
  8. IXPenilaian
  9. XPenutup
    1. Lampiran
    2. Model Kerangka Pengembangan Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini
KERANGKA PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
  1. I. PENDAHULUAN
    1. Latar Belakang
      1. Pengembangan kurikulum merupakan salah satu bagian penting dalam proses pendidikan. Kurikulum merupakan alat untuk membantu pendidik dalam melakukan tugasnya, sebab kurikulum secara umum dapat didefinisikan sebagai rencana yang dikembangkan untuk memperlancar proses pembelajaran.
        Kurikulum disusun agar memungkinkan pengembangan keragaman multi potensi, minat, kecerdasan bahasa, kognitif, sosial, emosional, spiritual, dan kinestetik/fisik- motorik, serta seni pada anak secara optimal sesuai dengan perkembangandan keunikan setiap anak..
      2. Pendidikan anak usia dini adalah masa yang penting, karena awal kehidupan anak merupakan masa yang paling tepat dalam memberikan dorongan atau upaya pengembangkan agar anak dapat berkembang secara optimal. Pengalaman yang dialami anak pada masa awal pertumbuhan dan perkembangannya akan berdampak pada kehidupannya di masa yang akan datang. Oleh karena itu pada masa usia dini perlu dilakukan upaya pendidikan yang meliputi program stimulasi, bimbingan, pengasuhan dan kegiatan pembelajaran untuk mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki anak yang diimplementasikan melalui pengembangan kurikulum.
      3. Penyempurnaan kurikulum termasuk kurikulum pendidikan anak usia dini dilaksanakan secara terus menerus melalui tahapan pengkajian, sosialisasi, advokasi dan implementasinya oleh tim pengembang kurikulum, pakar, praktisi dan pembina serta penyelenggara pendidikan.
      4. Pengembangan kurikulum anak usia dini sekarang ini dilakukan karena adanya perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Pengembangan kurikulum ini diharapkan dapat menjadi standar acuan pendidik dan penyelenggara pendidikan dalam membuat perencanaan, pelaksanaan pembelajaran serta penilaian (evaluasi) pembelajaran.
    2. Pengertian
      1. Kurikulum
        Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan,isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
      2. Kerangka Pengembangan Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini adalah kurikulum yang disusun, dilaksanakan dan dikembangkan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing lembaga penyelenggara pendidikan anak usia dini.

      Gambaran Selengkapnya Silahkan DOWNLOAD DISINI File Bentuk PDF
      Gambaran Selengkapnya Silahkan DOWNLOAD DISINI File Bentuk DOC
    Download Juga Lampiran Di Bawah Ini
    1. Lampiran 1 Silabus dan RPP PAUD Formal File Bentuk PDF
    2. Lampiran 2 Silabus dan RPP PAUD Formal File Bentuk DOC

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

CONTOH MODEL PEMBELAJARAN PENDIDIKAN MENENGAH DI DAERAH YANG TERKENA BENCANA ALAM

CONTOH MODEL PEMBELAJARAN PENDIDIKAN MENENGAH
DI DAERAH YANG TERKENA BENCANA ALAM

DAFTAR ISI
  1. BAB I. PENDAHULUAN
    1. Latar Belakang
    2. Tujuan
    3. Ruang lingkup
  2. BAB II. PEMBELAJARAN DI DAERAH BENCANA ALAM
    1. Pengertian Bencana Alam
    2. Akibat bencana alam
    3. Karakteristik Pembelajaran di daerah bencana alam
  3. BAB III. PEMBELAJARAN DI DAERAH BENCANA ALAM
    MELALUI MODEL PEMBELAJARAN TERPADU

    1. Pengertian Pembelajaran Terpadu
    2. Karakteristik Pembelajaran Terpadu
    3. Prinsip Pembelajaran Terpadu
    4. Pengorganisasian Pembelajaran Terpadu
    5. Implikasi Pelaksanaan Pembelajaran Terpadu
  4. BAB IV PROSEDUR PELAKSANAAN MODEL PEMBELAJARAN TERPADU
    1. Perencanaan Pembelajaran Terpadu
    2. Pelaksanaan Pembelajaran Terpadu
    3. Beberapa Ketentuan Umum Pelaksanaan Pembelajaran Terpadu
  5. BAB V PENUTUP
    1. Kesimpulan
    2. Rekomendasi
    3. LAMPIRAN
    4. Contoh Model Pembelajaran Terpadu
      1. Kelas X
      2. Kelas XI
      3. Kelas XII
      4. Rombongan belajar ( X, XI, XII)
      5. Pembelajaran sederhana
  1. BAB I PENDAHULUAN
    1. Latar Belakang
      1. Kondisi geografis Indonesia memiliki ribuan pulau besar dan kecil yang terletak di antara lempengan tektonis Euro-Asia dan lempengan Indo-Australia serta campur tangan manusia dalam mengeksploitasi hutan yang berlebihan sehingga hal tersebut sebagai penyebab terjadinya bencana alam seperti gempa bumi; tsunami; banjir dan tanah longsor
        di berbagai daerah di seluruh wilayah Indonesia. Hal ini sesuai dengan Undang-undang nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, dimana salah satu pasalnya menjelaskan bahwa “Wilayah Negara Republik Indonesia memiliki kondisi geografis, geologis, hidrologis, dan demografis yang memungkinkan terjadinya bencana baik yang disebabkan oleh faktor alam maupun faktor manusia yang menyebabkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis yang dalam keadaan tertentu dapat menghambat pembangunan nasional”. Dampak dari terjadinya bencana alam tersebut merusakkan rumah-rumah masyarakat, hilangnya harta benda bahkan menimbulkan korban manusia. Selain itu, dari dampak dari bencana alam tersebut secara langsung berhubungan dengan pendidikan, antara lain rusaknya bangunan sekolah, fasilitas belajar seperti peralatan sekolah dan sebagainya.
        Akibat yang ditimbulkan dari terjadinya bencana alam terhadap bidang pendidikan sehingga peserta didik mendapatkan layanan pembelajaran terbatas.
      2. Padahal mendapatkan layanan pembelajaran termasuk di daerah bencana alam merupakan hak bagi setiap warga negara yang dijamin oleh negara sebagaimana yang tercantum di dalam Undang-Undang Dasar 1945, pasal 31, ayat 2. Kondisi tersebut tentu tidak boleh dibiarkan terus menerus tanpa adanya suatu upaya-upaya terencana dan tepat guna. Jika hal tersebut di biarkan tentu akan membawa dampak yang lebih besar terhadap pembangunan dan pengembangan sumber daya manusia di daerah tersebut yang akan terhambat. Oleh karena itu, daerah-daerah bencana alam di seluruh Indonesia memerlukan suatu layanan pendidikan khusus bagi peserta didik dapat disesuaikan dengan masalah dan situasi serta kondisi di daerah tersebut.
      3. Untuk mengatasi terbatasnya pelayanan pembelajaran terhadap peserta didik di daerah bencana alam, maka Pusat Kurikulum, Badan Penelitian dan Pengembangan – Departemen Pendidikan Nasional mengembangkan model pembelajaran yang efisien dan efektif. Efisien artinya pembelajaran yang menggunakan waktu secara efisien dan efektif artinya pembelajaran yang dapat memecahkan masalah secara efektif. Melalui contoh model pembelajaran tersebut, diharapkan guru-guru dan masyarakat di daerah-daerah bencana alam dapat memberikan layanan pembelajaran dalam fasilitas atau sarana belajar yang terbatas dan situasi serta kondisi darurat.
    Gambaran Selengkapnya Silahkan DOWNLOAD DISINI File Bentuk PDF
    Gambaran Selengkapnya Silahkan DOWNLOAD DISINI File Bentuk DOC

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ
Shahih Bukhari  
-Imam Bukhari-  
Kitab Puasa  

Bab 46: Apabila Orang Berpuasa Sudah Berbuka dalam Bulan Ramadhan, Kemudian Matahari Kelihatan Lagi 959. Asma' binti Abu Bakar رضي الله عنه berkata, "Kami berbuka pada masa Nabi pada hari yang berawan, kemudian matahari tampak lagi." Kemudian ditanyakan kepada Hisyam, "Apakah para sahabat disuruh mengqadha?" Hisyam berkata, "Harus mengqadha?" Ma'mar berkata, "Saya mendengar Hisyam berkata, 'Aku tidak mengetahui, apakah mereka itu mengqadha atau tidak.'"[71]  
[71] Di-maushul-kan oleh Abd bin Humaid, dia berkata, "Kami diberi tahu oleh Ma'mar tentang hal itu." Sanadnya sahih.

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Selasa, September 01, 2009

MODEL KURIKULUM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KECAKAPAN HIDUP

MODEL KURIKULUM PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KECAKAPAN HIDUP
DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Abstrak
Daftar Isi
  1. BAB I : PENDAHULUAN
    1. Latar Belakang
    2. Tujuan
    3. Ruang Lingkup
  2. Bab II : LANDASAN
    1. Landasan Yuridis
    2. Landasan Teoritis
  3. Bab III : POLA PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KECAKAPAN HIDUP
    1. Kedudukan Kecakapan Hidup dalam Kurikulum
    2. Prinsip-prinsip Pengembangan Model Integrasi Pendidikan
    3. Kecakapan Hidup
    4. Langkah Pengembangan
  4. Bab IV : POLA PELAKSANAAN PENDIDIKAN KECAKAPAN HIDUP
    1. Prinsip Pelaksanaan Pendidikan Kecakapan Hidup
    2. Implikasi pelaksanaan
  5. Bab V : PENILAIAN DAN TINDAK LANJUT
    1. Pengertian penilaian
    2. Tujuan penilaian
    3. Teknik penilaian
    4. Tindak lanjut
    5. DAFTAR PUSTAKA
    6. LAMPIRAN-LAMPIRAN
      1. KTSP SMA Negeri 5 Bandung
      2. Silabus
      3. Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
  1. BAB I PENDAHULUAN
    1. Latar Belakang
      1. Undang-undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah mengamanatkan pelaksanaan otonomi daerah dan wawasan demokrasi dalam penyelenggaraan pendidikan. Hal ini berdampak pada sistem penyelenggaraan pendidikan dari sentralistik menuju desentralistik. Desentralisasi penyelenggaraan pendidikan ini terwujud dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Salah satu substansi yang didesentralisasi adalah kurikulum. Pasal 36 ayat (1) dinyatakan bahwa “pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada Standar Nasional Pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional”.
      2. Berkaitan dengan itu, sekolah berwenang menyusun Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dan silabusnya dengan mengacu pada Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan. Penyusunan kurikulum pada tingkat satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah berpedoman pada panduan yang disusun oleh BSNP (Pasal 16 ayat 1).
        Mengacu pada peraturan perundangan, pendidikan kecakapan hidup (life skill education) merupakan aspek yang perlu mendapat perhatian pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Hal ini sesuai dalam PP 19 tahun 2005 Pasal 13 ayat (1) bahwa
        “kurikulum untuk SMP/MTs/SMPLB atau bentuk lain yang sederajat,
        SMA/MA/SMALB atau bentuk lain yang sederajat, SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat dapat memasukkan pendidikan kecakapan hidup”. Ayat (2) pendidikan kecakapan hidup sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) mencakup kecakapan personal (pribadi), kecakapan sosial, kecakapan akademik, dan kecakapan vokasional. Atas dasar itu, baik sekolah formal maupun non-formal memiliki kepentingan untuk mengembangkan pembelajaran berorientasi kecakapan hidup.
      3. Konsep kecakapan hidup sejak lama menjadi perhatian para ahli dalam pengembangan kurikulum. Tyler (1947) dan Taba (1962) misalnya, mengemukakan bahwa kecakapan hidup merupakan salah satu fokus analisis dalam pengembangan kurikulum pendidikan yang menekankan pada kecakapan hidup dan bekerja. Pengembangan kecakapan hidup itu mengedepankan aspek-aspek berikut: (1) kemampuan yang relevan untuk dikuasai peserta didik, (2) materi pembelajaran sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik, (3) kegiatan pembelajaran dan kegiatan peserta didik untuk mencapai kompetensi, (4) fasilitas, alat dan sumber belajar yang memadai, dan (5) kemampuan-kemampuan yang dapat diterapkan dalam kehidupan peserta didik.
      4. Pendidikan kecakapan hidup merupakan aspek yang telah lama diterapkan di Indonesia. Tokoh-tokoh pendidikan seperti Ki hajar Dewantoro dan Muhammad Syafei telah menerapakan pendidikan kecakapan hidup dalam mengembangkan sistem pendidikannya. Dalam perkembangannya, konsep pendidikan kecakapan hidup di Indonesia mendapat perhatian kuat sejak awal reformasi. Konsep itu kemudian diimplentasikan antara lain dalam bentuk buku panduan, sosialisasi, riset, dan penerapan kurikulum yang memasukkan kecakapan hidup. Akan tetapi dalam perjalanan selanjutnya implementasi pendidikan kecakapan hidup di sekolah menjadi tidak jelas karena belum sampai dilakukan evaluasi tingkat keberhasilannya telah mengalami pergantian pmerintahan. Dalam pemerintahan baru isu yang mencuat adalah persoalan pergantian kurikulum yang semula disebut kurikulum 2004 dan dikenal sebagai Kurikulum Berbasis Kompetensi atau KBK yang disusun oleh Pusat Kurikulum hendak
      5.  
    Gambaran Selengkapnya Silahkan DOWNLOAD DISINI File Bentuk PDF
    Gambaran Selengkapnya Silahkan DOWNLOAD DISINI File Bentuk DOC

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمـَنِ الرَّحِيمِ  

Shahih Bukhari 
  -Imam Bukhari-  
Kitab Puasa  

Bab 59: Orang yang Berziarah di Tempat Suatu Kaum, Tetapi Tidak Berbuka di Sisi Mereka  
969. Anas رضي الله عنه berkata, "Nabi masuk pada Ummu Sulaim, lalu dia menghidangkan kepada beliau kurma dan samin. Beliau bersabda, 'Kembalikanlah saminmu dan kurmamu ke dalam tempatnya, karena aku sedang berpuasa.' Kemudian beliau berdiri di sudut rumah, lalu melakukan shalat yang bukan fardhu. Kemudian beliau memanggil Ummu Sulaim dan keluarganya. Ummu Sulaim berkata, 'Sesungguhnya ada sedikit kekhususan bagi saya.' Beliau bertanya, 'Apakah itu?' Ia berkata, 'Pembantumu Anas, tidaklah ia meninggalkan kebaikan dunia akhirat melainkan ia mendoakan untukku, 'Ya Allah, berilah ia harta dan anak, dan berkahilah ia padanya.' Sesungguhnya saya termasuk orang Anshar yang paling banyak hartanya. Anakku Umainah menceritakan kepadaku bahwa dimakamkan untuk selain keturunan dan cucu-cucu saya sebelum Hajjaj di Bashrah selang seratus dua puluh lebih.'"

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

KONSEP PENGEMBANGAN MODEL INTEGRASI KURIKULUM KESETARAAN GENDER

KONSEP PENGEMBANGAN MODEL INTEGRASI
KURIKULUM KESETARAAN GENDER

DAFTAR ISI
Abstraksi
Daftar Isi
  1. BAB I : PENDAHULUAN


    1. Latar Belakang
    2. Tujuan
    3. Ruang Lingkup
  2. BAB II : LANDASAN


    1. Landasan Teoritik
    2. Konsep Dasar Gender
    3. Landasan Yuridis
  3. BAB III : POLA PENGEMBANGAN MODEL


    1. Prinsip-prinsip Pengembangan
    2. Nilai-nilai Kesetaraan Gender yang dapat
    3. Langkah-langkah Pengembangan
  4. BAB IV : PELAKSANAAN DAN IMPLIKASI PENGEMBANGAN MODEL


    1. Pelaksanaan
    2. Implikasi


      1. Daftar Pustaka
      2. Contoh Model Integrasi Kurikulum Kesetaraan Gender dari SMAN 4Yogyakarta
  1. BAB I PENDAHULUAN


    1. Latar Belakang


      1. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 24 tahun 2006 tentang Pelaksanaan Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan, salah satu tugas Pusat Kurikulum adalah mengembangkan dan mengujicobakan model-model kurikulum inovatif. Pengembangan dan uji coba yang dimaksud, dilakukan dalam rangka menyusun model-model kurikulum inovatif yang disesuaikan dengan kebutuhan, potensi, karakteristik peserta didik dalam rangka memberikan layanan yang optimal kepada peserta didik.
      2. Salah satu pengembangan kurikulum inovatif pendidikan yang akan dikembangkan oleh pusat kurikulum adalah model integrasi kurikulum kesetaraan gender. Latar belakang dari pengembangan model integrasi kurikulum kesetaraan gender adalah


          .
        1. Amandemen Undang-undang Dasar tahun 1945, Pasal 27.
        2. Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) PBB. Tahun 1948.
        3. Undang-undang Nomor : 39 tahun 1999 tentang Hak Asazi Manusia.
        4. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003.
        5. Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
          Pendidikan
        6. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi
        7. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 23 Tahun 2006 tentang Standar
          Kompetensi Lulusan
        8. Dan peraturan-peraturan lainnya yang berkaitan dengan pelaksanaan dan pengembangan KTSP
      3. Pengembangan model integrasi kurikulum kesetaraan gender, dilandasi oleh Deklarasi pada Komperensi Dunia Tingkat Tinggi untuk Anak, yang tertera pada point 7 (5) yang berbunyi ”... ketidak seimbangan gender dalam pendidikan dasar dan menengah harus di tiadakan”. Serta rencana aksi hasil dari Komperensi Dunia Tingkat Tinggi untuk Anak pada point 39 (c) yang berbunyi : ” .... Menghapuskan ketimpangan gender dalam pendidikan dasar dan menengah pada tahun 2005; dan mencapai kesetaraan gender dalam pendidikan pada tahun 2015 (UNICEF). Begitu pula adanya intruksi Presiden Nomor 9 tahun 2000 tentang kebijakan Pengarusutamaan Gender (PUG).
      4. Dengan demikian Pusat Kurikulum pada tahun 2007 melakukan penelitian dan
        pengembangan untuk menyusun model integrasi kurikulum kesetaraan gender sebagai implementasi dari kebijakan-kebijakan nasional maupun internasional, serta kebutuhan pada masyarakat.
Gambaran Selengkapnya Silahkan DOWNLOAD DISINI File Bentuk PDF
Gambaran Selengkapnya Silahkan DOWNLOAD DISINI File Bentuk DOC

Download Juga Lampiran – Lampiran Di Bawah Ini  
1. Lampiran 1 Silabus PAI File Bentuk PDF  
2. Lampiran 1 Silabus PAI File Bentuk DOC  
3. Lampiran 2 Silabus PKN File Bentuk PDF  
4. Lampiran 2 Silabus PKN File Bentuk DOC  
5. Lampiran 3 Silabus B Indo File Bentuk PDF  
6. Lampiran 3 Silabus B Indo File Bentuk DOC  
7. Lampiran 4 Silabus Fisika File Bentuk PDF  
8. Lampiran 4 Silabus Fisika File Bentuk DOC
9. Lampiran 5 Silabus Biologi File Bentuk PDF  
10. Lampiran 5 Silabus Biologi File Bentuk DOC  
11. Lampiran 6 Silabus Sejarah File Bentuk PDF  
12. Lampiran 6 Silabus Sejarah File Bentuk DOC  
13. Lampiran 7 Silabus Seni Bud File Bentuk DOC  
14. Lampiran 7 Silabus Seni Bud File Bentuk PDF  
15. Lampiran 8 Silabus Penjaskes File Bentuk DOC  
16. Lampiran 8 Silabus Penjaskes File Bentuk PDF  
17. Lampiran 9 Silabus Akuntansi File Bentuk PDF  
18. Lampiran 9 Silabus Akuntansi File Bentuk DOC  
19. Lampiran 10 Silabus Sosiologi File Bentuk PDF  
20. Lampiran 10 Silabus Sosiologi File Bentuk DOC  
21. Lampiran 1 RPP PAI File Bentuk PDF  
22. Lampiran 1 RPP PAI File Bentuk DOC  
23. Lampiran 2 RPP B Indo File Bentuk PDF  
24. Lampiran 2 RPP B Indo File Bentuk DOC  
25. Lampiran 3 RPP Biologi File Bentuk PDF  
26. Lampiran 3 RPP Biologi File Bentuk DOC  
27. Lampiran 4 RPP Sejarah File Bentuk PDF  
28. Lampiran 4 RPP Sejarah File Bentuk DOC  
29. Lampiran 5 RPP Seni Bud File Bentuk PDF  
30. Lampiran 5 RPP Seni Bud File Bentuk DOC  
31. Lampiran 6 RPP Penjaskes File Bentuk PDF  
32. Lampiran 6 RPP Penjaskes File Bentuk DOC  
33. Lampiran 7 RPP Akuntasi File Bentuk PDF  
34. Lampiran 7 RPP Akuntasi File Bentuk DOC  
35. Lampiran 8 RPP Sosiologi File Bentuk PDF  
36. Lampiran 8 RPP Sosiologi File Bentuk DOC

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner