Kamis, Januari 07, 2010

KAJIAN KEBIJAKAN KURIKULUM MATA PELAJARAN IPA

KAJIAN KEBIJAKAN KURIKULUM MATA PELAJARAN IPA


  1. .LATAR BELAKANG

    1. Untuk membangun pendidikan masa depan perlu dirancang sistem pendidikan yang dapat menjawab harapan dan tantangan terhadap perubahan-perubahan yang terjadi.Sistem pendidikan yang dibangun tersebut perlu berkesinambungan dari pendidikan prasekolah,pendidikan dasar,pendidikan menengah,dan pendidikan tinggi.

  1. Salah satu dimensi yang tidak bisa dipisahkan dari pembangunan dunia pendidikan nasional masa depan adalah kebijakan mengenai kurikulum. Kurikulum merupakan jantungnya dunia pendidikan.Untuk itu,kurikulum di masa depan perlu dirancang dan disempurnakan untuk meningkatkan mutu pendidikan secara nasional dan meningkatkan mutu sumber daya manusia Indonesia.Mutu pendidikan yang tinggi diperlukan untuk menciptakan kehidupan yang cerdas, damai,terbuka, demokratis,dan mampu bersaing sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan semua warga negara Indonesia yang produktif dan lulusannya mampu berkompetisi secara internasional.
  2. Agar lulusan pendidikan nasional memiliki keunggulan kompetitif dan komperatif sesuai standar mutu nasional dan internasional,kurikulum di masa depan perlu dirancang sedini mungkin.Hal ini harus dilakukan agar sistem pendidikan nasional dapat merespon secara proaktif berbagai perkembangan informasi,ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni(IPTEKS).Dengan cara seperti ini lembaga pendidikan tidak akan kehilangan relevansi program pembelajarannya terhadap kepentingan peserta didik.
  3. Untuk menjawab tantangan di atas,Pusat Kurikulum menyelenggarakan kegiatan
    ”Kajian Kurikulum Mata Pelajaran IPA”.
    Kajian kurikulum IPA ini juga dilatarbelakangi dari hasil pendidikan kita yang belum memuaskan. Hal itu tercermin pada laporan beberapa lembaga internasional berkenaan dengan tingkat daya saing sumber daya manusia kita dengan negara-negara lain. Seperti yang terungkap dalam catatan Human Development Report tahun 2000 versi UNDP. Peringkat Human Development Index (HDI) atau kualitas sumber daya manusia Indonesia berada pada urutan 105 dari 108 negara. Indonesia berada jauh di bawah Philipina (77), Thailand (76), Malaysia (61), Brunei Darussalam (32), Korea Selatan (30), dan Singapura (24). Organisasi internasional yang lain juga menguatkan hal itu. International Educational Achievement (IEA) melaporkan bahwa kemampuan dalam bidang Science dan Mathe-matics siswa SMP Indonesia berada di urutan 38 dari
    39 negara yang disurvei. Sementara itu lembaga yang mengukur hasil pendidikan
    Science dan Mathematics di dunia, melaporkan hasil Third (kini Trends) International
    in Matemathics and Science Study (TIMSS), bahwa kemampuan Matematika siswa SMP kita berada di urutan 34 dari 38 negara, sedangkan kemampuan IPA berada di urutan ke-32 dari 38 negara (Martin, et al. 1999)., sedangkan pada tahun 2003, Indonesia berada pada urutan ke-36 dari 45 negara peserta baik pada bidang matematika maupun bidang sains (Martin, et al. 2003).
  4. Masih lemahnya kemampuan siswa dalam bidang sains khususnya literasi sains terbukti dari hasil penelitian tentang asesmen hasil belajar sains pada level internasional diselengarakan oleh Organization for Economic Co-operation and Development(OECD)melalui program PISAnya.Penelitian yang dilakukan oleh OECD yaitu tentang PISA(Programme for International Student Assessment)untuk
  5. Kajian Kebijakan Kurikulum mp IPA - 20071
    anak usia 15 tahun,yang telah dua periode diselenggarakan,Indonesia ikut berpartisipasi dalam kedua penelitian tersebut.Pertama,tahun 2000 diikuti oleh 41 negara,Indonesia berada pada urutan ke-38 pada kemampuan sains (OECD,2003:
    110),urutan ke-39 pada bidang matematika (OECD, 2003: 102) maupun kemampuan
    membaca (reading)(OECD,2003:80).Kedua, tahun 2003 diikuti oleh 40 negara, Indonesia berada pada urutan ke-38 pada kemampuan sains (OECD,2004:294)dan matematika (OECD, 2004:59), urutan ke-39 pada bidang kemampuan membaca(OECD,2004:281).


  6. Baca Selengkapnya Silahkan Download Dibawah Ini :
    1. File Berbentuk PDF
    2. File Berbentuk DOC.



  7. Traffic Exchange with 160,000+ members

Jumat, Januari 01, 2010

NASKAH AKADEMIK KAJIAN KEBIJAKAN KURIKULUM SMK

NASKAH AKADEMIK KAJIAN KEBIJAKAN KURIKULUM SMK


  1. .LATAR BELAKANG

    1. Salah satu Tugas Pokok dan Fungsi(TUPOKSI)Pusat Kurikulum adalah melaksanakan pengkajian Standar Isi dalam pengembangan kurikulum untuk pendidikan usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah, baik umum maupun kejuruan. Salah satu bagian dari kajian tersebut adalah kebijakan pengembangan kurikulum pendidikan menengah kejuruan sebagai dasar untuk melakukan pengembangan model- model kurikulum yang menjadi tanggung jawab Pusat Kurikulum. Untuk melaksanakan kajian tersebut perlu dilakukan serangkaian kegiatan, terutama analisis dan kajian kebijakan pengembangan kurikulum pendidikan menengah kejuruan yang kemudian disintesiskan menjadi naskah akademik. Analisis dan kajian tersebut diawali dengan penyusunan desain yang meliputi:

  1. Penetapan fokus kajian dan menjaring informasi yang relevan;
  2. Pengkajian dokumen Standar Isi;
  3. Diskusi hasil studi dokumen Standar Isi yang melahirkan rekomendasi;
  4. Pengkajian pelaksanaan dokumen Standar Isi yang menghasilkan simpulan;
  5. Diskusi hasil simpulan dengan para ahli dan pelaksana pendidikan serta para penentu kebijakan untuk menghasilkan rekomendasi;
  6. Analisis seluruh hasil kajian dan pelaksanaan dokumen Standar Isi oleh para pakar dan praktisi sehingga menghasilkan simpulan dan rekomendasi tentang dokumen Standar Isi serta pelaksanaannya;
  7. Penyusunan Naskah Akademik Kajian Kebijakan Kurikulum SMK.
  1. .LANDASAN FILOSOFIS

    1. Dalam kehidupan suatu negara, pendidikan memegang peranan yang amat penting untuk menjamin kelangsungan hidup negara dan bangsa, karena pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Masyarakat Indonesia dengan laju pembangunannya masih menghadapi masalah pendidkan yang berat, terutama berkaitan dengan kualitas, relevansi, dan efisiensi pendidikan.
    2. Mentalitas sebagian besar masyarakat Indonesia, terutama pada masyarakat agraris, dengan ketertinggalannya sebagai akibat penjajahan, belum mendukung tercapainya cita- cita pembangunan nasional. Berbagai kekurangan dan kelemahan mentalitas masyarakat Indonesia tersebut antara lain: suka melakukan terobosan dengan mengabaikan mutu, kurang rasa percaya diri, tidak berdisiplin murni, tidak berorientasi ke masa depan, dan suka mengabaikan tanggung jawabtanpa rasa malu.
    3. Terdapat ciri-ciri manusia Indonesia yang menghambat, yaitu hipokrit atau munafik, segan dan enggan bertanggungjawab atas perbuatannya, putusannya, kekuatannya, pikirannya, berjiwa feodal, percaya pada takhayul, boros, lebih suka tidak bekerja keras kecuali kalau terpaksa, ingin cepat kaya, berpangkat, cepat cemburu, dengki dan tukang meniru, Di samping itu terdapat kelemahan lain yang kurang menunjang pembangunan.
    4. Menghadapi kondisi masyarakat Indonesia sebagaimana diuraikan di atas, pembangunan pendidikan merupan suatu keharusan dan amat penting untuk dilakukan perubahan ke arah yang lebih baik lagi guna meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.
      Pendidikan nasional di negara kita dewasa ini sedang dihadapkan pada empat krisis pokok, yang berkaitan dengan kuantitas, relevansi atau efisiensi eksternal, elitisme, dan manajemen. Sedikitnya ada enam masalah pokok sistem pendidikan nasional sistem pendidikan nasional:


    5. Baca Selengkapnya silahkan Download Dibawah Ini :
      1. File Bentuk PDF
      2. File Bentuk DOC



    6. Traffic Exchange with 160,000+ members