Sidebar atas

Jumat, Mei 07, 2010

MODEL PENERAPAN PENDIDIKAN MULTIKULTUR

MODEL PENERAPAN PENDIDIKAN MULTIKULTUR

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada dasarnya pendidikan adalah suatu usaha sadar manusia mempersiapkan generasi muda. Dalam mempersiapkan generasi muda tersebut pendidikan harus mulai dari hal- hal yang dimiliki atau dari apa yang sudah diketahui. Apa yang sudah dimiliki dan apa yang sudah diketahui itu adalah apa yang terdapat pada lingkungan terdekat peserta didik terutama yang berkaitan dengan lingkungan budaya.
Pada pertengahan abad ke-20 Ki Hajar Dewantara mengemukakan bahwa pendidikan harus berakar pada kebudayaan yaitu “dalam garis-garis adab kemanusiaan seperti terkandung dalam pelajaran agama, maka pendidikan dan pengajaran nasional bersendi kepada agama dan kebudayaan bangsa serta menuju ke arah keselamatan dan kebahagiaan masyarakat“ Pendapat ini juga sejalan dengan pendapat Dewey yang mengatakan bahwa pendidikan harus berakar pada budaya peserta didik dan harus mempersiapkan peserta didik untuk dapat hidup dalam lingkungan budaya tersebut.
Dewasa ini dapat dikatakan bahwa tidak ada bangsa di dunia ini yang memiliki nilai dan budaya yang homogen. Indonesia sebagai salah satu negara besar di kawasan Asia Tenggara memiliki keragaman budaya yang kompleks. Motto “Bhineka Tunggal Ika” yang tercantum dalam lambang negara kita sangat tepat dalam menggambarkan realita yang ada di negara kita. Data secara antropologis menunjukkan bahwa Indonesia memiliki lebih dari 300 suku bangsa yang memiliki keragaman sosial dan budaya. Kelompok-kolompok budaya besar seperti Aceh, Batak, Minangkabau, Dayak, Jawa, Bugis-Makasar, Ambon, Papua dan lain-lain adalah contoh dari keberagaman tersebut. Belum lagi kelompok-kelompok budaya yang relatif lebih kecil dibanding dengan kelompok pendukung kebudayaan sebelumnya.
Dalam realita yang seperti ini maka pendidikan multikultur merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat dihindari. Sehingga sedikitnya ada empat alasan mengapa pendidikan multikultur diperlukan, empat alasan tersebut adalah:
1. Laju perubahan dalam kehidupan manusia Indonesia yang disebabkan oleh kemajuan ekonomi dan teknologi informasi. Perubahan kehidupan yang disebabkan oleh kemajuan ekonomi telah memperbesar kesenjangan sosial (social gap) antara kelompok atas dan kelompok bawah, hal ini akan mengakibatkan semakin besarnya perbedaan dalam gaya hidup dan pandangan hidup dari kedua kelompok tersebut.
2. Adanya mobilitas penduduk yang tinggi, menyebabkan adanya pertemuan yang intens antarkelompok dengan budaya yang berbeda. Untuk dapat menghasilkan kegiatan yang produktif perlu kedua kelompok memiliki pemahaman yang baik mengenai budaya kelompok lain.
3. Kemajuan teknologi informasi telah membuka isolasi daerah pedesaan di Indonesia. Perkenalan dengan budaya-budaya lain dapat diperoleh secara mudah dari media elektronik yang mungkin saja dapat menimbulkan persepsi yang keliru dan tidak menguntungkan.
4. Munculnya berbagai konflik antar budaya yang banyak terjadi akhir-akhir ini telah memperlihatkan adanya kesalah fahaman budaya yang sangat besar dari berbagai kelompok yang bertikai. Dampak pertikaian dapat menimbulkan trauma sosial yang memerlukan proses pendidikan untuk memperbaikinya.

Dengan sejumlah alasan tersebut di atas, maka sudah sejak lama para ahli pendidikan dan kurikulum menyadari bahwa kebudayaan adalah salah satu landasan pengembangan kurikulum di samping landasan-landasan yang lain seperti perkembangan masyarakat, ilmu pengetahuan, teknologi informasi, politik dan ekonomi. Untuk itu maka kurikulum sebagai seperangkat rencana yang tertulis dan dilaksanakan dalam suatu proses pendidikan untuk mengembangkan potensi dan kualitas peserta didik seperti yang diharapkan bagi kehidupan dirinya maupun bagi bangsanya, dapat dikembangkan untuk mengatasi persoalan-persoalan multikultur seperti yang tersebut di atas.
Karena Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar telah ditetapkan sebagai standar nasional dan merupakan standar isi dari pelaksanaan kegiatan pendidikan di sekolah maka pengembangan kurikulum pendidikan multikultur dapat melalui pengembangan indikatornya. Untuk dapat mengembangkan indikator ke pendidikan multikutur ada tiga hal yang harus diperhatikan guru, yaitu :
1. Posisi peserta didik harus sebagai subyek belajar, dengan posisinya sebagai subyek, peserta didik akan melakukan berbagai upaya untuk mengkaji setiap mata pelajaran untuk dikaitkan dengan apa yang sudah dimilikinya.
2. Cara belajar peserta didik di latar belakangi dengan latar belakang budayanya
3. Lingkungan budaya peserta didik menjadi sumber belajar utama.

B. Tujuan Kegiatan
Kegiatan ini bertujuan untuk menyusun model pengembangan kurikulum inovatif, khususnya Model Penerapan Pendidikan Multikultur pada jenjang pendidikan menengah. sehingga dapat membantu guru dalam mengoptimalkan layanan pendidikan kepada peserta didik, yang pada gilirannya dapat mengembangkan potensi dan kemampuan peserta didik dalam menghadapi kehidupan nyata.

C. Ruang Lingkup
1. Lingkup jenjang dan satuan pendidikan:
Mengingat lingkup jenjang pendidikan menengah relatif luas maka pada kegiatan ini dibatasi hanya pada satuan pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA).
2. Lingkup Mata Pelajaran:
Lingkup pengembangan model kurikulum inovatif yang mengintegrasikan pendidikan multikultur pada jenjang pendidikan menengah mencakup mata pelajaran sebagai berikut:
a. Pendidikan Agama
b. Pendidikan Kewarganegaraan
c. Bahasa Indonesia
d. Bahasa Inggris
e. Matematika
f. Fisika
g. Biologi
h. Kimia
i. Sejarah
j. Ekonomi
k. Sosiologi
l. Geografi
m. Seni Budaya
n. Pendidikan Jasmani dan Olahraga

Baca Selengkapnya Silahkan Download File Dibawah Ini :
1. File Bentuk PDF
2. File Bentuk DOC
3. Silabus dan RPP I
4. Silabus dan RPP II

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Tidak ada komentar :

Posting Komentar